Shalat Dhuhur Setelah Shalat Jumat


Oleh : M Quraish Shihab

Beberapa bulan terakhir ini beberapa masjid di sekitar kami tinggal mulai melakukan shalat Dhuhur setelah shalat Jumat yang disebut ’iadah. Alasan yang dikemukakan adalah seandainya di suatu kampung ada beberapa masjid yang melaksanakan shalat Jumat, maka yang sah shalat Jumatnya adalah adalah yang pertama Tabiratil Ihramnya, sedangkan yang tidak sah/batal shalat Jumatnya. Ini karena Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin hanya melakukan shalat Jumat pada satu tempat.

Tentu saja kegiatan ini cukup membingungkan sebagian jamaah masjid di lingkungan kami. Mohon penjelasan dari Ustadz tentang dalil ‘iadah dan bagaimana kami sebaiknya bersikap terhadap pelaksanaan ‘iadah tersebut.

Agus Sulaeman, Kalibata, Jakarta Selatan

Jawaban :

Alasan ‘iadah  atau pengulangan itu itu berdasar pendapat ulama-ulama madzhab pada masa lalu. Memang Imam Syafi’i berpendapat bahwa jika terlaksana beberapa kali Jumat di satu kota, tanpa suatu kebutuhan seperti besarnya kota , atau sulitnya berkumpul di satu tempat atau suara imam tidak terdengar oleh semua yang shalat, maka imam masjid yang terlebih dahulu mengucapkan Takbiratul Ihram  itulah yang Jumatnya sah, sedang jamaah di masjid yang lain harus mengulang dengan melaksanakan shalat Dhuhur.

Madzhab Hanbali menjadikan kehadiran penguasa pada satu masjid sebagai masjid yang sah shalatnya. Tapi, Abu Hanifah menilai sah semua Jumat yang terlaksana di satu kota agar tidak menimbulkan kesulitan bagi penduduk, bahkan madzhab ini melarang ‘iadah / pengulangan shalat.

Di sisi lain perlu diingat  bahwa pendapat mereka yang mengharuskan Jumat hanya di satu masjid itu lahir ketika kota-kota di negeri-negeri Islam masih belum berkembang dan penduduknya pun masih terbatas. Mereka tidak mempunyai alasan yang kuat untuk menetapkan ketentuan kecuali pengamalan sahabat Nabi dan generasi sesudahnya pada masa awal Islam. Karena itu, ulama-ulama dewasa ini membenarkan pelaksanaan shalat Jumat di beberapa tempat pada satu kota. Ulama-ulama kini walau tidak melarang siapa pun yang ingin melakukan ‘iadah  dengan melaksanakan lagi shalat Dhuhur, tetapi mereka sama sekali tidak setuju bila hal tersebut dilaksanakan secara berjamaah. Karena,  ini dapat menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Demikian Wa Allah A’lam

Sumber : Quraish Shihab Menjawab ,  Dialog Jumat, Republika, Jumat, 1 Februari 2002 / 18 Dzulqa’idah 1422 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in M.Quraish Shihab, Shalat and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s