Sikap Terhadap Orang Berutang


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, alhamdulillah saat ini keluarga kami dalam keadaan kondisi keuangan yang cukup. Akan tetapi, saya sering merasakan kondisi ini sering dimanfaatkan orang lain dan saya merasa sering dizalimi. Misalnya, banyak orang datang bertubi-tubi meminjam uang dan pada saatnya berjanji untuk mengembalikan, mereka dengan mudahnya mengingkari.

Apa yang seharusnya kami lakukan dengan kondisi tersebut, Ustadz?

Yunia Azra -Yogyakarta

Jawaban :

Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi ( siapa yang dikehendaki-Nya ). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.“ ( QS Saba [34] : 39 ).

Anda sedang diuji Allah dengan amanah kelimpahan rezeki materi. Anda bukanlah pemilik sesungguhnya dari harta-harta itu, apa yang Anda sebut usaha untuk mendapatkannya tak akan ada artinya tanpa izin dan kehendak Allah SWT. Bersyukurlah atas semua anugerah nikmat-Nya dan janganlah tergoda untuk menimbunnya.

Ulama berkata, menyimpan harta itu seperti memelihara ular di ruang terbuka dalam rumah. Jika Anda tidak pandai merawatnya dan terlambat memberinya makanan, Andalah yang dimangsa olehnya. Ingat, musibah apa pun yang menimpa kita bukan karena orang lain, melainkan karena dosa yang kita lakukan.

Hal terbaik adalah bertobat dan evaluasi diri serta buat setan berputus asa. Caranya dengan meningkatkan infak dan sedekah walau dalam kekurangan karena baru saja tertipu atau dikhianati. Selanjutnya, bermurah hatilah kepada orang yang berutang, berikanlah kelonggaran dalam menagihnya atau maafkanlah dengan menghapuskan atau memutihkan utangnya jika dia benar-benar dalam kesulitan.

Haram  memejahijaukan  orang  yang  sedang  berupaya  mencicil bayaran  utangnya  dan  infakkanlah  harta  sebanyak mungkin  di jalan  Allah.  Kepada  setiap  orang  yang  datang untuk  berutang,  jika sedang berkelapangan  maka  berikanlah  pinjaman  kepada  siapa  yang menurut  Anda  orang  itu  pantas  dan  amanah.  Jika Anda menganggap  orang  itu  tidak  pantas  dan  tidak  amanah  maka ucapkanlah  perkataan  yang  makruf.  Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 20 Januari 2012 / 26 Safar 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Muamalah and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s