Pembatas Saat Shalat


Oleh : Ustadz Budi Hata’at

Ustadz, benarkah saat shalat kita harus membuat batas. Dan benarkah kita diperbolehkan menolak orang yang akan melewati pembatas shalat tersebut ?

Jawaban :

Dalam satu riwayat dari Abu Said  RA, Rasulullah SAW bersabda, “ Apabila salah seorang di antara kalian hendak shalat, sebaiknya ia membuat sutrah di depannya dan hendaklah ia mendekat.” ( Abu Daud, kitab Ash-Shalah, hal. 695, an-Nasa’i , kitab al-Qiblah II, hal 62 ). Abu Hurairah RA pun meriwayatkan, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Apabila seseorang di antaramu shalat, hendaklah ia meletakkan sesuatu di hadapannya. Kalau tiada mendapatkan sesuatu hendaklah ia memancangkan saja sebuah tongkat, dan kalau tidak ada tongkat hendaklah ia membuat garis hingga tak apa-apa lagi kalau nanti ada yang lewat di depannya.”  ( HR Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban ).

Adapun pengertian sutrah  pada hadits di atas ialah pembatas ( tabir )  yang ditempatkan di depan orang yang shalat. Pembatas ini diperlukan untuk memberi batasan area untuk melaksanakan shalat sehingga tidak ada yang akan lewat dan mengganggu kekhusuan shalat. Pembatas ini terutama diperlukan apabila shalat di lapangan, seperti saat sedang shalat Id. Adapun di masjid, tidak diperlukan lagi, pembatas shalat bisa dengan menggunakan karpet masjid yang biasanya telah jelas garis-garis shafnya, begitu pula dengan adanya sajadah.

Hukum pembatas pada saat shalat itu adalah sunnah bukan wajib, alasannya ialah hadits Ibnu Abbas RA yang meriwayatkan bahwa,”Pada suatu ketika Nabi SAW bershalat di tanah lapang  dan di hadapannya tidak terdapat suatu apapun.” ( HR Ahmad dan Abu Daud ). Jika seseorang shalat dengan pembatas yang jelas, maka ia boleh menolak  sesuatu yang lewat di hadapannya, baik manusia maupun hewan. Namun jika lewatnya di luar pembatas, maka tidak perlu ditolak. Dalam satu riwayat, saat shalat  Abu Said pernah menolak berkali-kali orang yang hendak melintas di depannya, Rasulullah SAW bersabda, ”Tolaklah dengan sekuat tenagamu karena sesungguhnya ia adalah setan.” ( HR Abu Daud dari Abul Waddak )

Jadi, membuat pembatas saat shalat hukumnya sunnah dan dibenarkan seseorang yang shalat untuk menolak orang yang hendak lewat di depannya. Wallahu a’lam bishshawab

Sumber : Fiqih Sunnah, Galamedia, Jumat, 23 Desember 2005/21 Dzulqadah 1426 H

  • Ustadz Budi Hata’at, Lc , Pembina Yayasan Riyadhus Sunnah, Bandung

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Budi Hata'at, Fiqih, Ibadah, Shalat and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s