Hukum Shalat


Oleh : M Quraish Shihab

Dalam satu ceramah agama, saya mendengar bahwa shalat ( lima waktu ) hukumnya tidak wajib bahkan tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa shalat itu wajib.

Penceramah mengatakan bahwa shalat lebih bersifat manajemen pribadi yang berfungsi mencegah fahsya’ dan munkar. Pernyataan itu sungguh mengejutkan. Betulkah shalat (lima waktu) itu tidak wajib dan betulkah tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Quran yang mewajibkan shalat ? Apakah juga tidak ada hadits yang mewajibkannya ?

Abdul Fatah, Indramayu, Jawa Barat

Jawaban :

Sungguh saya berdoa semoga Anda salah paham ketika mendengar ceramah. Atau mudah-mudahan pembicara itu keseleo lidah atau salah ucap.

Kewajiban shalat lima waktu ( lima kali sehari semalam ) bukan saja kesepakatan seluruh kaum Muslimin, tetapi hukum wajibnya sedemikian populer sehingga dinilai sebagai suatu aksioma seperti halnya satu tambah satu sama dengan dua  , atau dalam istilah keagamaan Islam ma’lum minad din bidh-dharurat. Atas dasar itu pula ulama berkesimpulan bahwa siapa yang mengingkarinya sebagai sesuatu yang wajib , maka ia dinilai telah keluar dari agama Islam.

Bertebaran ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi SAW yang memerintahkan shalat, baik secara tegas seperti aqimush shalat  yang terulang belasan kali dalam Al-Quran atau dalam bentuk redaksi pujian terhadap orang-orang yang shalat ( a.l. QS 22 : 35 ) , kecaman dan ancaman terhadap yang meninggalkannya atau malas melakukannya ( a.l. QS 74 : 43, 4 : 142, 9 : 54 ) bahkan dengan redaksi yang sangat tegas, “Sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.”  ( QS 4 : 193 ).

Memang, jika hanya satu ayat yang memerintahkan shalat, maka boleh jadi ia tidak dipahami sebagai kewajiban, namun sekedar anjuran, tetapi kumpulan ayat-ayat di atas dan semacamnya disertai dengan sabda dan pengamalan Nabi SAW serta sahabat-sahabat beliau menunjukkan dengan pasti tanpa sedikit keraguan pun bahwa shalat adalah sesuatu yang hukumnya wajib.

Bahkan di sisi lain, kita dapat berkata bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi ia adalah kebutuhan. Jiwa seorang yang menyadari kelemahannya, pasti akan merasakan kebutuhan kepada Tuhan, yang dimanifestasikannya dalam bentuk shalat.

Akal manusia pun membutuhkan shalat, karena shalat merupakan pengejawantahan dari keyakinan akan keesaan Tuhan yang mengatur alam raya ini, tanpa meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa maka tidak akan ada jaminan bagi kepastian hukum-hukum alam. Jika ada dua Tuhan, maka siapa yang menjamin bahwa Tuhan pertama menghendaki air mencari tempat yang rendah, sedang Tuhan kedua menghendakinya mencari tempat yang tingggi. Nah, jika demikian, keyakinan akan keesaan-Nya dibutuhkan oleh akal manusia, dan kebutuhan itulah yang antara lain digambarkan dalam bentuk shalat.

Demikian, sekali lagi shalat dari segi hukum Islam adalah sesuatu yang wajib, dan dari segi pandangan akal dan rasa ia adalah kebutuhan bukan sekadar kewajiban.

Demikian, Wa Allah A’lam

Sumber : Quraish Shihab Menjawab ,  Dialog Jumat, Republika, Jumat, 21 Maret 2003 /18 Muharram 1424

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Ibadah, M.Quraish Shihab, Shalat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s