Meninggalkan Suami Karena tak Tahan


Oleh : KH Ali Yafie

Saya seorang istri dengan seorang putri yang sudah berkeluarga. Selama ini, saya tidak tahu apa hak saya sebagai istri dan tidak tahu pula apa itu keluarga sakinah. Yang saya tahu suami tidak rajin ibadah, dan saya harus berusaha keras menutupi kebutuhan keluarga sehingga saya terpaksa jadi TKW.

Untuk itu, saya bertahun-tahun di luar negeri dan semua hasilnya untuk keluarga, tapi sejauh ini tidak dihargai oleh suami. Ia malah selalu merasa kurang.

Jujur, saya sudah tua dan tidak ingin bertengkar lagi karena bukan contoh yang baik bagi anak. Kini saya sudah tidak sanggup lagi meneruskan keadaan ini.
Saya ingin hidup dan ibadah tenang, karena itu cerai jalan terbaik bagi saya. Tapi suami malah mengajukan permintaan sejumlah uang yang tidak sanggup saya bayar sementara ke Pangadilan sama saja membuka aib.

Untuk itu, saya bermaksud meninggalkan suami begitu saja, dicerai syukur, tidak pun saya pasrah. Pertanyaannya : Apakah yang saya lakukan salah ? Bagaimana seharusnya cara yang saya tempuh menghadapi situasi seperti ini ?

Sebelumnya, saya ucapkan banyak terima kasih.

Ida S – Hong Kong

Jawaban :

Kalau meninggalkan begitu, artinya main hakim sendiri. Jika disinggung di sini, suami meminta tebusan dalam jumlah besar agar terjadi perceraian, ini justru terbalik. Anda menjadi TKW dan memenuhi kebutuhan keluarga itu berarti suami berhutang kepada Anda, karena dalam agama suamilah yang berkewajiban menafkahi Anda dan anak-anaknya. Bukan terbalik, malah Anda yang menafkahi keluarga.

Anda yang seharusnya bisa menuntut nafkah karena tidak pernah diberikan suami dan memang dibenarkan Undang-undang. Anda punya hak menuntut melalui Pengadilan Agama karena selama ini nafkah yang seharusnya Anda dapatkan justru tidak Anda dapatkan. Bukan malah berpikir sebaliknya, Anda yang dituntut untuk membayarkan tebusan.

Kalau Anda mengiyakan permintaan tebusan suami, itu cara berpikir yang terbalik. Anda tidak perlu takut mengajukan ke Pengadilan, karena ketakutan itu justru merugikan Anda sendiri. Kalau diancam pun, toh ada perangkat hukum yang akan menangani. Jika Anda membiarkan situasi seperti ini terus berkelanjutan, berarti membiarkan pernikahan Anda mengantung terus. Maka dari itu, harus ada keberanian dari Anda untuk melaporkan ke Pengadilan jika ingin menyelesaikan pernikahan itu.

Suami yang tidak membelanjai istri dan anak-anaknya, maka seorang istri mempunyai hak ke Pengadilan Agama. Tapi istilahnya fasakh, bukan talak, hakimlah yang nanti akan menceraikan ■

Sumber : Konsultasi Fiqih, Majalah Hidayah, Edisi 119, Juli 2011

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Ali Yafie, Fiqih, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s