Mahar Bukan dari Suami


Oleh : KH Ali Yafie

Saya telah menikah selama 6 tahun dan dikaruniai seorang putri. Waktu menikah, kelaurga suami saya tidak ada satu pun yang datang, hanya teman-temannya saja yang datang. Menurut suami saya, keluarganya mengalami kecelakaan di perjalanan, jadi tidak bisa datang.

Suami saya juga tidak memegang mahar sepeser pun untuk menikahi saya, lalu ibu saya memberi uang 100 ribu rupiah pada calon suami saya sebagai mahar.

Akhirnya ijab kabul dilaksanakan dengan wali hakim karena ayah saya tidak bisa datang (di Arab Saudi) tapi mengikuti pelaksanaan ijab melalui ponsel, sebelumnya ayah juga melakukan pembicaraan dengan penghulu dulu.

Setelah 2 hari kami menikah, terjadilah keributan. Ada 4 orang sedang mencari-cari suami saya. Ternyata mereka adalah ayah, ibu, paman dan bibi suami saya. Mereka mendapat info bahwa suami saya telah menikahi saya 2 hari lalu, spontan mereka semua shock karena suami saya ternyata tidak pernah memberitahukan keluarganya bahwa dia hendak menikahi saya.

Tapi suatu ketika suami saya memang pernah berkata dia ingin menikahi saya tapi ibunya langsung manamparnya. Ibunya tidak setuju karena orangtuanya pernah mendengar kabar miring tentang saya yang disebarkan oleh teman sekantor suami saya. Mungkin hal itulah yang mendorong suami saya berbohong karena dia terlalu mencintai saya serta mengharapkan saya menjadi istrinya sementara ibunya menentangnya.

Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, saya tidak lantas marah dan membenci suami, malah saya memaafkannya dan saya juga meminta maaf pada mertua atas kebodohan saya.

Akhirnya mertua saya memaafkan saya, keluarga saya dan keluarga suami saya juga telah saling menerima. Mertua saya juga memberikan saya perhiasan sebagai ganti mahar saat saya menikah.

Alhamdulillah  rumah tangga kami juga langgeng dan bahagia hingga saat ini. Hubungan antar keluarga juga baik. Pertanyaannya :

  1. Sahkah mahar yang digunakan pada pernikahan saya tersebut karena mahar tersebut diberikan ibu saya ?
  2. Sahkah pernikahan saya karena menggunakan wali hakim padahal ayah saya ada hanya saja kondidisnya ayah saya mengikuti proses pernikahan kami dengan mendengarkan melalui telepon ?
  3. Jika pernikahan ini tidak sah, apakah pernikahan kami ini halal di mata Allah swt dan apakah kami harus melakukan ijab kabul ulang saat ayah saya sudah kembali dari Saudi ( ayah saya hingga sekarang masih di Saudi ) ?

kharisma_17sweet@ yahoo.com

Jawaban :

1.  Masalah mahar itu tidak membatalkan sebuah pernikahan kalau tidak dibayar karena bukan rukun nikah. Rukun nikah itu hanya lima: ada calon istri, calon suami, saksi 2 orang, ada wali, ada ijab kabul. Karena tidak ada wali dalam proses pernikahan ini, maka walinya adalah wali hakim. Ijab kabulnya juga ijab wali hakim.

Dengan melihat semua itu, maka rukun-rukun nikahnya sudah terpenuhi. Mahar itu cuma kewajiban tambahan, jadi tidak menentukan.

Bahkan ada orang yang bebas mahar mengingat mahar itu haknya perempuan. Kalau perempuan mengatakan,”Saya tidak perlu dibayar mahar,” maka suami bebas tidak membayar mahar kepada istrinya. Mahar bukan rukun nikah, tetapi suatu kewajiban. Kalau suami tidak membayar, maka menjadi hutang bagi suami.

Kemudian, kalau ada orang berbaik hati memberikan sesuatu untuk dijadikan mahar, itu boleh saja. Tidak masalah, siapapun yang memberikan, meskipun dari calon mertua sekalipun. Jadi urusan mahar sudah selesai dengan pemberian di atas. Kendati demikian, kebohongan yang pernah dilakukan suami karena mengatakan bahwa keluarganya mengalami kece;akaaan pada waktu itu tetaplah sebuah dosa. Karena itu suami Anda tetap harus banyak beristighfar, meminta pengampunan dari Allah swt.

Alhamdulillah jika sekarang keluarga Anda sudah pulih. Nah, apabila mertua Anda memberikan perhiasan itu bisa sebagai pengganti mahar, itu melambangkan mereka menyadari pada waktu itu tidak memberikan mahar kendati urusan mahar sebenarnya telah selesai sebelumnya.

2.  Pernikahan seperti digambarkan di atas dimana dilakukan oleh wali hakim adalah pernikahan yang sah mengingat posisi ayah berada di tempat yang sangat jauh. Meski ayah Anda tidak mengetahui sekali pun kalau berada di tempat yang jauh ( seperti di Arab saudi ), memang wali hakimlah yang menikahkan dan pernikahan itu tetap sah apalagi ayah Anda mengetahui berlangsungnya proses pernikahan.

3.  Sekali lagi, pernikahan seluruhnya itu merupakan pernikahan yang sah dan tidak perlu diualng lagi ■

Sumber : Konsultasi Fiqih, Majalah Hidayah, Edisi 119, Juli 2011

  • Prof. KH. Ali Yafie, mantan Ketua MUI Pusat dan Rois Am Nahdlatul Ulama
  • Gambar : tempointeraktif.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Ali Yafie, Fiqih, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s