Menyikapi Fatwa Ulama


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya sering mendengar ungkapan bahwa fatwa itu tidak mengikat. Yang ingin saya tanyakan, seberapa penting kedudukan fatwa dalam Islam dan bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai Muslim terhadap fatwa ulama?

Hamba Allah

Jawaban :

Fatwa dalam Islam sangat penting kedudukannya, sepenting posisi para ulama sebagai pewaris Nabi dalam menjawab problematika umat yang belum diatur secara perinci dalam teks-teks syariat ( an-nushush asy-syar’iyyah ). Fatwa menjadi penting karena ia adalah jawaban atau solusi atau jalan keluar dari kebuntuan sebuah masalah.

Ketiadaan fatwa akan menyebabkan kevakuman dan kebekuan umat dalam menghadapi problematika yang terus berkembang di mana perkembangannya melebihi pengetahuan umat terhadap teks-teks syariah yang ada. Fatwa secara definitif adalah penjelasan hukum syariat berdasarkan dalil yang sah kepada orang yang bertanya.

Fatwa bisa berkaitan dengan kenyataan yang terjadi saat itu atau terhadap sesuatu yang belum terjadi. Pelakunya disebut mufti, bisa dalam bentuk lembaga, bisa pula dari seorang individu yang telah memenuhi kriteria sebagai seorang mufti. Mufti, baik pribadi maupun lembaga, menurut ash-Shayrafi, adalah yang memiliki kompetensi dan dapat dipercaya dalam mengurusi kehidupan beragama.

Mufti pun mesti memahami makna umum dan khusus ayat-ayat Al-Quran, mengetahui yang menghapus dan dihapus dari ayat-ayat Al-Quran ( nasikh wa mansukh ), memiliki pengetahuan yang memadai tentang sunah, dan metode penetapan hukumnya. Pentingnya fatwa dapat kita telusuri berdasarkan beberapa nash.

Fatwa yang disampaikan para nabi adalah fatwa dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu, fatwa para ulama haruslah sejalan dengan fatwa Allah dan Rasul-Nya. Umat hendaknya mengikuti fatwa tersebut.

“Dan, mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah, ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedangkan kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan ( Allah menyuruh kamu ) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.'” ( QS an-Nisa: 127 ).

Mufti adalah orang yang mewakili nabi karena mereka sebagai pewaris para nabi. Sedangkan, para nabi diutus Allah untuk memberikan keterangan tentang ayat-ayat Allah kepada manusia. Allah berfirman, “… Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” ( QS an-Nahl: 44 ).

Karena objek fatwa adalah penjelasan seputar hukum-hukum Allah dan proses implementasinya di tengah kehidupan umat, fatwa ulama adalah pesan atas nama Allah. Alqarrafy menggambarkan seorang mufti sebagai penerjemah kehendak Allah. Sementara, Ibnul Qayyim menggambarkannya seperti menteri yang bertindak atas nama raja atau presiden.

Jika fatwa ulama itu berupa apa yang Allah tetapkan dalam Al-Quran atau yang Nabi tegaskan dalam hadis yang sahih dengan sangat jelas dan tidak ada perbedaan pendapat ulama mengenainya maka umat Islam wajib melaksanakannya dan tidak boleh mengabaikannya.

Apabila fatwa itu terdapat perbedaan pendapat para ulama di dalamnya maka masyarakat awam Islam dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, yang mempunyai bekal ilmu syar’i yang memungkinkannya membandingkan pendapat para ulama dengan dalil serta mencari pendapat yang kuat, maka dia harus melakukan itu dan beramal menurut pendapat yang lebih kuat dan menurutnya berdasarkan dalil yang kuat pula.

Kedua, yang tidak punya bekal ilmu syar’i untuk dapat memilih pendapat yang kuat berdasarkan dalil, maka dia harus berijtihad mengikuti dan mengamalkan pendapat ulama yang menurutnya paling berilmu dan paling dapat dipercaya karena sikap wara dan amanahnya, bukan mengikuti pendapat siapa saja berdasarkan nafsu dan keinginan pribadi.

Dalam memilih berbagai pendapat para ulama itu atau memilih ulama yang berilmu dan dapat dipercaya, umat Islam harus selalu menanyakan kepada hatinya, bukan mengikuti hawa nafsu atau keinginan pribadinya. Wallahu a’lam bish shawab ■
                                                                                                                    

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 12 Januari 2012 / 18 Safar 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s