Haramkah Gaji yang Diterima Hasil Bekerja di Bank Konvensional ?


Oleh : Aam Amiruddin

Ustadz, apakah kita sebagai seorang Muslim diperbolehkan bekerja di bank konvensional, mislanya sebagai Manajemen Trainee (MT) ataupun ODP (Officer Development Program). Atau, kita sebaiknya memilih bank syariah saja ? Saya pernah mendengar kabar bahwa bunga bank konvensional termasuk riba dan riba itu diharamkan. Nah, apakah dengan kita bekerja di bank konvensional berarti hasil kerja (gaji) yang didapat juga haram ? Mohon jawaban dan penjelasan dari Ustadz.

Jawaban :

Sebelumnya mari kita perhatikan riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya. Dan beliau bersabda, “Mereka itu sama.” (H.R. Muslim)

Hadits sahih ini, bila dicermati dari sudut pandang idealisme, mungkin sudah cukup menjadi jawaban akan keraguan hukum bekerja di bank konvensional. Hadits tersebut juga sekaligus memberikan keyakinan penuh bahwa Allah yang akan melindungi hamba-Nya manakala ada itikad untuk senantiasa berada di jalan-Nya. Sehingga, hendaknya kita tidak merasa takut akan kelangsungan rezeki di kemudian hari jika akhirnya harus meninggalkan pekerjaan di bank konvensional.

Namun, sebagian kalangan masih memberi peluang untuk tetap menerima pekerjaan di bank konvensional. Alasannya, meskipun sistem yang dipakai tergolong riba, tapi masih memungkinkan adanya aliran dana yang masuk pada lembaga tersebut dari tranaksi non-riba, seperti penitipan, transfer, dan lain-lain.

Untuk menentukan pilihan, tentu saja dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Jika ingin selamat secara total, maka pilihan keluar dari bank konvensional adalah yang terbaik. Namun, kalaupun masih melanjutkan pekerjaan itu, maka mohonkanlah ampun dan teruslah berdoa agar diberi jalan yang terbaik. Wallahu a’lam.

  • Dr Aam Amiruddin, Pemimpin Umum Majalah Percikan Iman

Sumber : Bedah Masalah, Percikan Iman, No. 01 Th. XIII Januari 2012 / Rabiul Awal 1433

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aam Amiruddin, Fiqih, Muamalah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Haramkah Gaji yang Diterima Hasil Bekerja di Bank Konvensional ?

  1. Kakcik says:

    ass
    Terkait Bunga bank..
    Pak ustadz apakah hukumnya jika kita berkerja di perusahan yg bergerak di bidang Gadai BPKB kendaraaan ( yg sekarng sedang berkembang pesat di negeri ini ) ataupun dunia Leasing Pembiayaan.
    saya pribadi ingin sekali Meninggalkan pekerjaan itu. karna semata-mata hasilnya dari Margin ( bunga ) angsuran yg kita dapatkan.
    Disisi lain saya sudah berkeluarga dan harus memberi nafkah anak istri saya ….
    jika saya baca riwayat Rasulullah Saw. melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba,
    saya sudah pernah coba keluar dari tempat saya bekerja bahkan sudah sampai 4 perusahaan yg saya jalani selalu yg saya dapat kan pekerjaan yg sama…

    saya mohon bantuan & saran pak Ustadz . bagai mana cara yg terbaik buat kehidupan keluarga.
    agar kami sekeluarga di jauhakan dari harta riba.

    wass

  2. Naf'u says:

    TINGGALKAN YANG MERAGUKAN

    Tanya:
    Seorang ikhwah bercerita: Ketika kami mau pindah keluar Jawa, seorang tetangga yang baru kenal salaf datang ke rumah dan memberi hadiah kenang-kenangan berupa kamus Munawwir dan kue-kue. Kami terima pemberian tersebut. Adapun tetanggaku itu masih bekerja sebagai pemusik (belum keluar kerja waktu itu). Kue-kue tidak kita makan, sedang kamus tetap saya simpan, dan sering saya pakai sampai sekarang. Yang saya tanyakan: Bagaimana status barang tersebut?. Apakah bisa digolongkan termasuk barang yang tidak boleh dimanfaatkan/haram (karena kemungkinan besar dibeli dari hasil kerja sebagai pemusik) sebagaimana kue yang tidak saya makan?. Bagaimana mensikapi kamus tersebut?. Mengharap jawabannya. Jazaakallahukhoiro.

    Jawab:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Bila pemberian itu dia berikan setelah dia bertaubat dan dia sudah tinggalkan pekerjaannya maka hukumnya semisal hukum pada si pemberi, ya’ni kalau si pemberi sudah bertaubat dari pekerjaannya maka harta yang dia peroleh dari pekerjaannya yang dahulu, boleh untuk dia gunakan dan dia manfaatkan setelah taubatnya, karena Alloh Ta’ala telah berkata:

    عفا الله عما سلف، ومن عاد
    فينتقم الله منه

    “Semoga Alloh mengampuni apa-apa yang telah lewat, dan barang siapa yang mengulangi (perbuatan/pekerjaannya) maka Alloh akan menyiksanya”.

    Para shohabat sebelum Islam keadaan mereka seperti yang disebutkan oleh Ja’far bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu bahwa yang kuat memakan yang lemah, dan berbagai kejelekan mereka lakukan, ketika mereka sudah masuk Islam maka apa yang mereka peroleh dari hasil-hasil yang harom, tidak diperintahkan untuk dibuang atau dihancurkan seperti rumah-rumah atau harta-harta mereka yang lainnya. Wallohu A’lam.

    Dan kalau dia diberi pemberian, dan si pemberi masih bekerja pada pekerjaannya yang harom itu, bila diketahui dengan pasti bahwa pemberian itu murni dari gaji kerjanya sebagai pemusik maka tidak boleh menggunakan barang pemberiannya, sama saja itu berbentuk makanan, pakaian atau yang semisalnya.

    Adapun kalau hanya dibangun di atas kemungkinan maka bisa jadi dia memperolehnya dari jalan lain, akan tetapi bila terus meragukan maka sebaiknya ditinggalkan, tidak digunakan dan tidak pula dimanfaatkan:

    دع ما يريبك إلى ما يريبك

    “Tinggalkan terhadap apa-apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu”.

    Bila keberadaannya seperti kamus atau buku maka diserahkan kepada maktabah (perpustakaan) umum, yang bisa dimanfaatkan oleh kaum muslimin, kalau berbentuk makanan maka diberikan kepada binatang-binatang yang tidak boleh dimakan seperti kucing atau yang semisalnya.
    Wallohu A’lam.

    Dijawab oleh:
    Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Hadahullohu wa ‘Afahu (10 Dzulqo’dah 1435).

  3. satria says:

    Assalamualaikum
    Saya baru keterima bekerja disalah satu bank konvensional, saat ini baru bekerja sekitar 2 mingguan, saya tidak tahu sebelumnya klo trnyata pekerjaan yg saya jalani mengandung riba yang mebawa laknat Allah.saya bertekad ingin kluar daripekerjaan saya ini tp trnyata saya terikat kontrak kerja 2 thn apbila saya kluar sbelum hbis kontrak maka saya terkena denda yg besar.. tetapi hati saya sangat ingin kluar dri pkerjaan ini…
    Bgaimana tindakan saya seharusnya apbila kasusnya seperti demikian?
    Apakah saya brdosa jikatrs menunggu sampe habis kontrak kerja? Dan bgaimana hukum gaji yg saya terima dari upah bekerja saya di bank …
    Terimakasih tolong masukannya

  4. ahriani says:

    Tanya:
    assalamualaikum…ustadz, sya punya teman kerja di korea, kondisi tempatnya bkerja sngt tidak memungkinkan untuk dia beribadah (sholat), selain itu makanan yg dia makan dri pabrik trgolong haram (misalnya ayam tpi wkt dptong tnpa asma allah)…apakah gaji yg dia terima dri bkerja dgn kondisi seperti itu trgolong haram?
    mohon djwab ustadz..
    wassalam

  5. wief pradipta says:

    tidak ad hdist yang m’prbolehkn riba dlm bntuk apapun, jka ad org yg brusaha memperbolehkn nya brati dia sudah menjual agama dmi kehidupan dunia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s