Hak Mertua


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya mempunyai suami yang baik, tapi tidak tegas dan kurang mandiri. Sedangkan, keluarga suami saya, terutama ibunya dan saudari-saudari perempuannya, sering kali ikut campur dalam masalah internal keluarga kami. Sering ibu mertua mengatakan bahwa dia mempunyai hak terhadap saya, sedangkan keluarga saya tak ada hak apa-apa atas diri saya. Yang ingin saya tanyakan, apakah hak mertua dan saudari-saudari suami terhadap saya ?

Hamba Allah

Jawaban :

Salah satu tujuan syariat nikah adalah terhubungnya jalinan silaturahim yang semakin luas antara keluarga besar kedua mempelai, sehingga terbangunlah masyarakat Muslim yang didasari oleh hubungan akidah dan nasab. Mertua adalah orang tua pasangan kita yang sangat besar pengaruhnya pada kebahagiaan rumah tangga.

Pengaruh hubungan ini sampai akhirat kelak ketika hamba dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah SWT. “…. Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)  nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan ( peliharalah ) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ( QS an-Nisa [4] :1 ).

Adalah hak mertua untuk dipelihara hubungan silaturahim dengan anaknya, juga hak mertua untuk dimuliakan oleh menantunya, sebagaimana anaknya yang wajib memuliakan kedua orang tuanya. Masalah seperti ini kerap terjadi di rumah tangga, terutama bagi keluarga pemula yang belum saling mengenal, baik antara menantu dan mertua serta para iparnya.

Semua itu berakhir jika segalanya dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya. Dan, berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” ( QS an-Nisa [4] : 36 ).

Ketika siap menikah, berarti siap menerima pasangan dan semua kondisi keluarganya. Keadaan suami-istri dalam rumah tangga sangat dipengaruhi oleh rida atau murka kedua orang tua masing-masing. Oleh karena itu, pasangan yang baik adalah yang menganjurkan pasangannya senantiasa berbuat baik kepada kedua orang ibu-bapaknya.

Dari pemahaman ini muncullah kesadaran, setelah menikah berarti bertambahlah orang tua kita, yakni mertua pasangan kita. Hak mertua dalam berumah tangga adalah dihormati, disayangi, dan dijaga kehormatan dan hartanya, serta ditaati perintahnya selama tidak bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya.

Bahkan, keluarga anaklah yang berkewajiban menafkahi jika kedua orang tua tidak sanggup lagi memenuhi hajat hidup kesehariannya. Namun, jika ada kekurangan dan hal yang mengecewakan dari keluarga pasangan, jangan terburu-buru menilai negatif atau menganggap mereka sebagai musuh walaupun jelas-jelas perbuatan mereka menunjukkan permusuhan.

Sebab, kemungkinan terbesarnya bukan kejahatan yang mereka inginkan saat terkesan ikut campur dalam urusan rumah tangga kita, tapi kemungkinan terbesarnya adalah karena kebaikan dan kasih sayanglah yang mereka inginkan, hanya caranya yang barangkali kurang tepat menurut kita. Untuk itu, ingat pesan Allah dalam surah Fushshilat ayat 34-35.

“Dan, tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah ( kejahatan itu ) dengan cara lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang sabar dan orang-orang yang mempunyai keuntungan besar.”

Balaslah kejahatan dengan kebaikan yang lebih baik dari yang biasanya menurut ukuran sosial. Allah akan meluluhkan hati orang yang bertikai menjadi saling mengasihi dan menyayangi. Allah akan menolong rumah tangga kita selama kita membalas kejahatan dengan kebaikan demi terjalinnya silaturahim dan terbebas dari permusuhan. Wallahu a’lam bish shawab ■

 

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 10 Januari 2012 / 16 Safar 1433 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Hak Mertua

  1. hamba allah says:

    ustaz ; saya sudah brkeluarga dan sekarang tinggal dirumah mertua yang satu kampung,nmun tidak satu rumah.jarak rumah kami cuma selang satu rumah.
    sering sekali terjadi salah paham dan perselisihan antara suami saya dan ka2k nya sendiri,malah mereka sering adu mulut kalau sering bersama.dan keluarga dari suami saya,masih sering mengatur kehidupan kami,sampai uang belanja dan kegiatan sehari2 kami.mertua saya sifat nya dendam,cepat marah dan emosi tinggi.kalau saya punya masalah dengan suami saya,dia suka ikut campur memanas kan lagi.bahkan ka2k dari suami saya sudah bercerai,karena orang tua nya suka ikut campur dan membesar2kan maslah.dan sering sekali memarahi suami (menantunya dari ka2k suami saya)
    1 kampung kamipun banyak yang tidak menyukai mertua saya.mertua saya jarang sekali bersiraturrahmi dengan masyarakat.
    dan inti nya,saya ingin pindah jauh dari rumah mertua.tapi sang suami tidak mau.karena mertua tidak membolehkan kami pindah.alasan nya dia punya banyak rumah sewa,tp kami musti sewa.

    padahal saya cuma ingin,agar lebih mulia jika hanya sekali kali bertemu.supaya tidak sering terjadai kributan yang lain lagi.
    saya tidak mau bercerai dengan suami saya.seperti kakak ipar saya yang sudah bercerai dengan suami nya,karena sering dengar hasutan sang mertua.

    sampai detik ini mertua tidak bicara dengaaya cuma ingin saya.
    saya harus gimana ustaz??
    tujuan saya minta pindah rumah,cuma pingin jalinan keluarga kami lebih harmonis.bukan malah pecah belah kayak gini,

    hamba allah

  2. Fadhilah says:

    Aslkum,.
    Ana mau tanya, bagaimana cara mengatasi mertua yg selalu memarahi menantunya(istri) atas kesalahn anak-a(si suami),.?
    Ketika suami melakukan kesalahan bukan suami yg di marah oleh mertua melainkan ana sebagai menantu-a?

  3. aji priantoro says:

    Asslm.. Pakk Ustadz, mau tanya ni.. Ketika seorang istri memiliki masalah dengan suaminya, kemudian dia ceritakan kepada orang tua istri, muncullah rasa kasihan dari orang tuanya. Namun tidak sampai di sini, orang tua istri dan suami akhirnya menjadi kurang baik/sdikit bermusuhan. karna Orang tua istri merasa harga dirinya dilecehkan karena putrinya didzalimi anak orang lain, sementara suami menganggap mertuanya terlalu ikut campur urusan keluarganya. Bukannya solusi yang dia dapatkan, namun masalah baru yang justru lebih parah dibandingkan sebelumnya. padahal si suami tsb sudah dengan rendah diri menerima tuduhan itu dengan sebagai salahnya.. walaupun sebagian tuduhan si istri itu kadang yang berlebihan.

  4. Helmi setiawan says:

    Aslm Pak ustadz,sy mau tanya saya seorang suami yg tinggal dgn mertua dan sudah 6 thn kurang tinggal bersama di pondok mertua indah.Setelah sekian lama sy tinggal terjadilah masalah mengenai mertua yg perempuan ingin pergi berlibur ke luar kota dengan alasan katanya ada saudaranya yg sakit pd hal sebenarnya sy tahu hanya ingin berlibur dan saat yg bersama sy sebenarnya membutuhkan kendaraan yg kita miliki untuk mengantarkan orang tua sy untuk menjenguk besan yg meninggal dan britanya dadakan dikarenakan orang tua saya baru diberitahu..terjadilah adu mulut antara sy dengan ibu mertua yg sudah ingin berangkat karena sy bnr2 ingin mengantar orang tua saya lgs saya bicara agak keras kepada ibu mertua tp karena dia merasa benar dia malah terus bicara macam2 dan satu hal lagi ibu mertua ini sifatnya juga kurang baik klo sudah mau nya harus sampai bapak mertua sy jg sudah tidak bisa berbuat apa2.. Saya sdh sering minta istri saya untuk tidak tinggal dgn orangtua nya tapi karena kita sama2 anak terakhir maka dia selalu mau kita menemani orang tuanya tp sampai saat ini kesabaran saya sudah habis..mohon bimbingannya ustadz wasalam..trimakasih..

  5. farIdian says:

    Ass pak ustadz, sy punya problem yg amat berat di dlm rmh tangga kami. Memang sy akui kesalahan ada di sy karna sy telah berselingkuh dgn perempuan lain, padahal sy sdh mengakui kesalahan dan mau bertobat dgn sungguh2. Alhamdulillah disini istri sdh mau terima dan jalani komunikasi dgn baik walaupun kami sdh tidak serumah, disisi lain orang tua istri sy terlalu ikut campur dlm hal ini dan tidak mau lg anaknya hidup bersama dgn sy lg dgn alasan sakit hati dan merasa nama baiknya sdh di cemarkan. Pertanyaan sy, apakah keikut sertaan ibu mertua dlm hal ini benar atau salah ?
    Sblmnya terimakasih atas perhatiannya, mhn pencerahan dri pak ustadz. Assalamualaikum wr wb

  6. rachma says:

    Assalamu’alaikum ustadz.sya seorang kakak dari seorang adik perempuan yg sudah berumah tangga dg 2 anak. kami masih tinggal bersama ibu.apakah seorang ibu masih berkewajiban mengurus anaknya yg sudah berumah tangga?dari urusan makanan sampai cucian?sya sudah mengingatkan adik saya untuk mengurus keluarganya sendiri,dari hal yg terkecil sampai mengurus anak.tapi yg saya dapatkan justru ocehan,yang kataynya saya blum menikah,jadi saya tidak merasakan mengurus suami dan anak.sampai saat ini saya masih mencuci pakaian mereka.krna dg alasan mrka sbuk,ga da waktu,anak rewel, dan sebagainya.saya sudah menyampaikan hal ini pada ibu,tapi ibu membela adik. apa yang harus saya lakukan tuk perubahan keluarga yg lebih baik?krn teman lelaki saya mundur krn melihat kondisi keluarga saya.maaf ustadz,bahkan teman saya sampai mengibaratkan saya pembantu adik saya. mohon pencerahannya ustadz.terima kasih.wassalamu’alaikum.

  7. kima says:

    assalamu’alaikum Ustadz ,

    aku seorang istri . apakah berhak mertua mengekang keuangan rumah tangga anaknya ?
    suami saya bekerja dan saya pun bekerja . memang untuk gaji lebih besar gaji saya . tapi apakah mertua berhak menyuruh saya untuk meenuhi kebutuhan suami saya dalam hal materi ? saya mohon pencerahannya ustadz . terimakasih . wa’alaikumsalam

  8. Restien says:

    Ass, pak ustad saya mau tanya dan tlng berikan saran untk masalah saya, kami berrumah tangga lum satu tahunn, , kami tinggal di rmh ibu n bpk ku, , kami berbeda daerah, aq asli orng plmbng dan suami orng jambi, , awal nya kami bekerja di satu perusahan , dan saat kami menikah , kami diwajibkan untk berenti salah satu, dan akhir nya aku berenti kerja dan papa aku mau masukin krja di sebuah perusahan lain di tmpt daerah ku, dan akhir suami aq mnta izin kpda klrga dijmbi untk pindah krja di tmpt istri, , dgn alasan aku pun krja di daerah ku, dan akhir suami aq pindah , setelha brp bln menikah aq pun lum di panggil untk krja dsna,smntra aq jdi ibu rmh tngga smpe akhir nya aq hamil dgn keadaan ini aq pun lum krja , apa suatu hari mertua aq mrh n mencaci maki aq krna aq bebani anak nya krn tidak bkrja, bahkan aq di bilang penyabab mertua aq jauh dri anak nya,, jdi gmna sikap aq skrng trhadap mertua aq , ,

  9. Fanda says:

    Assalamualaikum, Pa Ustad.

    Saya seorang istri yang menikah dengan duda 2 orang anak (2 anak laki2x), pada awal pernikahan kami sebelum anak dari suami ikut dengan kami di karenakan, anak2x memilih ikut
    dengan kami dari pada Ibu Kandung Mereka Sendiri.

    Awalnya kami tinggal di rumah kami sendiri, namun orang tua saya ketika datang ke rumah kami,
    mereka selalu ikut campur urusan rumah tangga kami, dan kadang suka menjelek2x kan keadaan rumah kami, terutama Ibu saya sendiri, beliau pernah bilang klw beliau tidak akan betah
    lama2x nginap/tinggal di rumah kami di karenakan rumah kami yang kecil / sempit, saya sangat
    sedih sekali mendengarnya karena pada saat itu Ibu Saya bicara seperti itu dengan ade kandungnya melalui Hp dan berbicara di teras depan rumah kami, saya sebenarnya malu Ibu
    saya bicara tersebut karena saya pikir tidak pantas beliau bicara seperti itu dan pasti terdengar
    dengan tetangga2x saya nantinya. Namun saya tidak komentar apa2x (saya diemin saja).

    Setelah beberapa 3 tahun kemudian saya hamil dan di anugrahi seorang Anak Perempuan,
    dan alhasil Orang Tua saya (terutama Ibu Saya) meminta kami tinggal di rumah mereka
    selama saya nanti habis melahirkan karena saya juga masih harus bekerja kembali, sehingga
    bayi kami bisa di urus / di jaga oleh Ibu Saya.

    Suami sebenarnya minta kami untuk segera pindah jika bayi perempuan kami sudah beranjak
    besar (memasuki usia 1 tahun lebih) karena, suami merasa tidak enak jika kita nantinya selalu
    merepotkan mertuanya (orang tua saya) di karenakan suami khn bawa 2 anak dari pernikahannya yang pertama, saya sebenarnya setuju saja, tapi saya minta utk dapat berhenti
    bekerja jika kita pindah lagi ke rumah kami sendiri karena saya tidak bisa mempercayai bayi
    anak perempuan kami di asuh oleh PRT & di tinggal dengan PRT & kedua anak laki2x dari suami saya. Karena saya merasa khawatir sebenarnya jika anak laki2x yang pertama dari suami
    merasa iri akan keberadaan anak perempuan saya meskipun mereka adalah kakak & adik juga
    (beda ibu).

    Saya juga sayang sama anak laki2x dari suami saya, sudah seperti anak sendiri tapi terkadang
    anak pertama dari suami saya tersebut, suka merasa tersaingi oleh ade2xnya sendiri. Di samping
    itu, orang tua saya semenjak kami tinggal di rumah orang tua saya, terutama Ibu saya selalu
    menyuruh anak laki2x dari suami saya yg pertama dengan nada kasar / seperti PRT (klw menurut suami saya), namun orang tua saya selalu bilang mereka mengajarkan hal tersebut jika
    nanti kami tidak ada PRT, anak2x kami bisa mandiri, bisa bantu ngerjain pekerjaan rumah di
    rumah kami sendiri, jadi tidak selalu bergantung kepada orang lain.

    Mungkin maksud orang tua saya baik, tapi terkadang memang mereka klw sudah menyuruh
    mengerjakan sesuatu misalkan untuk beresin kamar tidur mereka dan lemari pakaian mereka
    sendiri agar rapih dan bersih dan mereka belajar tertib. Cuman kadang orang tua saya pun
    juga suka menjelek-jelekan suami saya, mereka bilang klw kami tinggal di rumah orang tua dengan makan gratis / hidup gratis, padahal kami tiap minggu belanja makanan n isi kulkas
    orang tua dan Listrik pun kami bayarkan. Suami kadang suka komplain ke saya, kenapa orang tua saya selalu berfikiran negatif terhadapnya dan pernah sekali orang tua saya berbicara seperti ini ke suami (ayah saya)
    ” Klw kamu tidak bisa bersikap dewasa & bijaksana, bisa2x kedidupan kamu akan
    terulang kembali seperti yang pertama (dulu) ”

    Kemudian Ibu saya menambahkan: Ya .. klw kamu pisah sama istrimu, istrimu masih ada kami,
    dan dia tidak akan susah2x amat.

    Suami saya sampai terkejut mendengar hal tersebut dan menangis dan kecewa atas ucapan2x
    orang tua saya itu dan hal tersebut sudah 2x di ucapkan oleh orang tua saya tapi suami hanya
    diam saja tidak komentar apa dan sabar karena memang sudah sifat mereka.

    Namun kadang dari sisi saya yang ingin rasanya berteriak dan marah ke orang tua saya tapi
    saya coba menahan emosi saya karena saya merasa hutang budi krna sudah menjaga anak2x
    pada saat kami pergi kerja.

    Ustad mohon bantuannya dan saya, saya harus bagaimana ?

    saya & suami saat ini hanya mendengar saran dari nenek kandung saya yaitu, jika orang tua
    kami marah2x dan mencaci maki, cukup di dengar saja dan jangan di komentari. Biarkan saja.
    tapi kadang suami merasa sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah orang tua saya.

    Sebenarnya saya pun demikian namun kendalanya saat ini rumah kami belum selesai di renovasi, dan jika pindah kami pun harus pindahin sekolah anak2x kami dan klw memaksa
    kami harus cari kontrakan tapi semua itu perlu dana yang lumayan besar jika harus cari
    kontrakan dan pasti orang tua saya akan makin tersinggung nantinya.

  10. agusre says:

    Ustad maaf saya pnya maslh sm ibu mertua yg selalu memojokan saya ga bs urus rumah karena sy pny baby sudah gitu suami ga pernah bantu pekerjaan rt sy jd keteteran dan sedikit berabtakan.sudah gitu ibu mertua suka jg mojokin anak2 sy klo sy mau kerumah orang tua sy jd saya kesal dan balikin kt2 dia apakah sy berdosa

    • no name says:

      sbgai orang tua yang baik seharusnya melihat anak mertuanya sedang dlam kesulitan harusnya membantu bukan malah mengata2i.. semoga kk di beri kesabaran ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s