Fokus pada Allah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sejujurnya saya hampir jenuh dengan cara hidup saya yang memfokuskan diri pada karier dan pekerjaan. Jika hidup sesungguhnya adalah untuk ibadah, pertanyaan saya bagaimana caranya agar hidup saya bisa fokus pada Allah SWT semata?

Alwi Sy – Banten

Jawaban :

Apa yang kita cari sudah lama ada dalam genggaman Allah, apa yang sedang kita kejar sudah lama menjadi milik-Nya, ubun-ubun kita ada di tangan-Nya. Sejatinya, bekerja dan berkarier adalah bagian dari ibadah, namun tak jarang orang kehilangan orientasi ibadah dalam pekerjaannya. Sebab, mereka mengarahkan pekerjaannya untuk uang, jabatan, atau karier.

Akibat disorientasi itulah seseorang akan merasakan kejenuhan dalam pekerjaan dan kehidupannya. Mulailah dengan meluangkan waktu khusus untuk berdoa agar diberi kemampuan beribadah kepada Allah.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Hai anak Adam, luangkan waktu beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa cukup dan akan Aku penuhi kebutuhanmu. Tapi, jika tidak kau lakukan itu, Aku bebani tanganmu dengan tumpukan kesibukan dan tidak akan Aku penuhi kebutuhanmu.” ( HR Tirmidzi dan Ibnu Majah ).

Agar dapat fokus pada Allah dalam pekerjaan, upayakan menata kembali pola kerja dan cara hidup. Mulailah fokus pada pekerjaan yang hanya memperjumpakan kita dengan Allah sesuai kemampuan diri. Rasul bersabda, “Mulailah dengan amal yang sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan sampai kalian yang bosan.”  ( HR Bukhari ).

Dalam praktiknya, berupayalah untuk konsisten dengan ibadah yang mudah dan ringan saja, sebagaimana sabda Rasulullah,  “Amal ( kebaikan ) yang paling disukai Allah ialah yang konsisten walau sedikit.” ( HR Bukhari ). Dan, tidak perlu memaksakan diri dengan ibadah-ibadah yang belum diketahui ilmunya, Rasulullah bersabda, “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beribadah.” ( HR Muslim ).

Bahkan, ketika memfokuskan terlebih dahulu dengan yang wajib-wajib saja secara konsisten, sudah sangat besar maknanya, seperti apa yang disabdakan Rasulullah. “Laksanakan segala apa yang diwajibkan Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling bertakwa.” ( HR Ath-Thabrani ). Hakikat hidup fokus pada Allah terdapat dalam makna iyyaka na’bud wa iyyaka nasta’in.

Ini berarti, “Hanya kepada Engkau saja kami menyembah dan hanya kepada Engkau saja kami memohon pertolongan.” Menurut Addahhak, makna “Hanya kepada-Mu kami beribadah” bermakna “Hanya Engkau semata yang kami esakan, kami takuti, dan kami harapkan wahai Rabb kami, bukan selain-Mu dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan untuk menaati-Mu dan memohon pertolongan dalam segala urusan kami.”

Dalam kata Iyyaka na’bud terkandug makna pernyataan berlepas diri dari kemusyrikan, sedangkan dalam kalimat wa iyyaka nasta’in terkandung arti pernyataan berlepas diri dari upaya dan kekuatan, serta berserah diri kepada Allah. Wallahu a’lam bish shawab ■


Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 7 Januari 2012 / 13 Safar 1433 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ibadah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s