Meyakini Wali Allah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Siapakah wali Allah itu? Bolehkah kita meyakini dan menganggap seseorang sebagai wali di antara wali-wali Allah yang saleh sebagaimana sering terjadi dalam masyarakat yang dengan sangat mudah mengatakan seseorang sebagai wali Allah?

Rido – Yogyakarta

Jawaban :

Sesungguhnya ada perbedaan persepsi antara Islam dan pandangan kebanyakan masyarakat Muslim di negara kita tentang kriteria wali Allah. Dalam Islam, wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa. Mereka merasa gerak-geriknya diawasi oleh Allah sehingga selalu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak ( pula ) bersedih hati. ( Yaitu ) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat ( janji-janji ) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” ( QS  Yunus [10] : 62-64 ).

Ibnu Katsir mengatakan, pada ayat tersebut di atas Allah menjelaskan bahwa wali-wali-Nya adalah mereka yang beriman dan selalu bertakwa. Setiap mukmin yang bertakwa adalah wali Allah yang tidak mempunyai kekhawatiran terhadap apa yang akan mereka hadapi pada hari kiamat nanti dan tidak pula bersedih akan apa yang mereka tinggalkan di dunia ini.

Sedangkan, kriteria wali Allah yang berkembang dalam masyarakat lebih ditekankan pada aspek karomah yang ada pada diri orang yang dianggap wali Allah tersebut seperti berjalan di atas air, shalat di atas angin, bisa membaca pikiran orang, atau kesaktian-kesaktian lainnya. Kesimpulannya, mereka yang mempunyai kesaktian-kesaktian itulah yang dianggap sebagai wali.

Padahal, kesaktian-kesaktian itu bisa juga dilakukan dan diperlihatkan oleh dukun, paranormal, atau tukang sihir. Dalam Islam, ada atau tidaknya karomah dalam diri seseorang bukanlah menjadi ukuran bagi seseorang dianggap sebagai wali Allah atau bukan. Ukurannya adalah kokohnya keimanan di dalam hati dan ketakwaan yang terpancar dalam ibadahnya serta akhlak dan muamalah kepada sesamanya.

Para sahabat Nabi Muhammad  tidak pernah memanggil ahli ibadah di antara mereka dengan sebutan wali atau auliya Allah. Rasyid Ridha menegaskan, tidak pantas bagi seorang Muslim meyakini secara pasti bahwa seseorang yang telah meninggal itu sebagai wali Allah yang diridai-Nya dan akan mendapatkan yang dijanjikan Allah kepada auliya-Nya.

Sebab, hal itu merupakan sikap melampaui batas dalam hal ilmu gaib dan tergolong mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan. Para ahli ilmu telah bersepakat bahwa akhir hidup seseorang tidak ada yang mengetahuinya dan kita tidak boleh memastikan seseorang mati dalam keimanan dan akan mendapatkan surga Allah kecuali ada nash dari Allah dan Rasul-Nya.

Kita hanya berbaik sangka kepada semua orang beriman dan orang yang kita lihat keistiqamahannya dalam beragama. Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari menegaskan hal tersebut. Ada seorang perempuan bernama Ummul A’la, seorang perempuan Anshar yang pernah berbaiat kepada Rasulullah, berkisah bahwa pada saat itu dilakukan undian untuk melayani para Muhajirin.

Menurut Ummul A’la, ia mendapati Utsman bin Mazh’un yang kemudian tinggal di rumahnya. Sayangnya, Utsman jatuh sakit yang menyebabkan kematiannya. Di hari kematiannya, setelah dimandikan lalu dikafani, Rasulullah masuk dan Ummul A’la mengatakan, “Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib ( Utsman bin Mazh’un ), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu.”

Rasulullah bersabda, “Dari mana kamu tahu Allah telah memuliakannya?” Ia menjawab, “Ayahku sebagai taruhan atas kebenaran ucapanku, ya Rasulullah. Lalu, siapa yang Allah muliakan?” Rasul menjawab, “Adapun dia, telah datang kematiannya. Demi Allah berharap kebaikan untuknya. Demi Allah aku sendiri tidak tahu — padahal aku ini adalah utusan Allah –apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku.”

Ummul ‘Ala mengatakan, “Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah ( persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.” ( HR Bukhari ). Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 4 Januari 2012 / 10 Safar 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Meyakini Wali Allah

  1. muadz says:

    saya ingin berguru kepada wali gimana caranya ?

    ———————————————————

    Yang disebut Wali dalam Islam sebagaimana yang dinyatakan Al-Quran adalah orang yang beriman dan bertakwa. Dan kita diwajibkan berguru kepada yang beriman, bertakwa dan sekaligus seorang ulama.

    Kita sebenarnya tidak akan bisa mengetahui seseorang itu wali atau bukan. Dan hanya Allahlah yang mengetahuinya.
    Dalam masyarakat kita ada persepsi yang berbeda tentang siapa wali itu. Tapi yang disebut wali dalam Islam adalah sebagaimana yang disebutkan dalam QS Yunus (10) : 62 – 64.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s