Visi Hidup Mukmin


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Pada awal 2012 ini, sebagai seorang pegawai, saya banyak didoktrin untuk menjadi orang yang visioner dan dianjurkan menjalankan visi perusahaan tempat kami bekerja. Padahal, visi hidup saya sendiri sebagai Mukmin belum jelas. Ada teman saya yang visi hidupnya begini, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Bagaimana visi hidup seorang Mukmin, Ustadz?

Hamba Allah

Jawaban :

Visi adalah canangan masa depan dengan sederet perencanaan dan strategi serta taktik untuk mencapainya. Visi bukan sekadar membangun mimpi dengan kata-kata yang tak akan terjadi dalam dunia nyata. Sebagai seorang mukmin, visi hidup kita adalah visi yang dipilihkan Allah SWT yaitu, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan”.

Praktiknya, kita fokus pada aktivitas dan capaian yang memperjumpakan kita dengan Allah. Maksudnya, jangan melakukan pekerjaan yang tidak mempertemukan kita dengan Allah atau ubah paradigma bekerja selama ini yang dominan berorientasi uang dan materi. Caranya,  dengan menjadikan pekerjaan kita sebagai sarana mencari ampunan dan kasih sayang Allah.

Ciptakan pula suasana keseimbangan hidup spiritual dan material, raih kebahagiaan dunia yang memberikan efek keselamatan dan kejayaan akhirat. Untuk mencapai visi perjumpaan dengan Allah, cuma ada satu jalan, yaitu meniti jalan lurus dengan Al-Quran dan sunah yang sahih.

Sebagai Mukmin, jangan jalani hidup dengan visi dan pola yang tingkatannya baru coba-coba. Atau, kita mencontoh mereka yang belum jelas kesuksesan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat, misalnya mereka yang memegang visi, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Visi hidup orang seperti ini hanya ada dalam dunia kata yang tak akan pernah terjadi dalam kenyataan dunia apalagi akhirat.

Sebagai Mukmin, kita telah dipilihkan Allah sosok terbaik untuk kita contoh, yaitu orang-orang yang telah dinilai sukses oleh-Nya. Mereka adalah para nabi, shiddiqin, syuhada, dan salihin  ( QS an-Nisa: 69 ). Mereka mempunyai dua program besar dalam hidupnya, yaitu ibadah dan dakwah. Hidup untuk ibadah adalah upayanya berjumpa dengan Allah. Sedangkan hidup untuk dakwah adalah mengajak manusia menjumpai Allah. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 31 Desember  2011 / 6 Safar 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Ibadah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s