Zakat untuk Non-Muslim


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya tinggal di daerah minoritas Muslim. Alhamdulillah, ekonomi keluarga kami cukup untuk menjadi muzaki, pembayar zakat. Di sekitar rumah kami banyak fakir miskin dari kalangan non-Muslim. Pertanyaan saya, bolehkah umat Islam memberikan zakat kepada fakir miskin yang tak beragama Islam?

Hamba Allah

Jawaban :

Allah SWT menetapkan delapan golongan yang berhak menerima zakat. “Sesungguhnya zakat itu hanyalah bagi orang fakir, miskin, pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk    ( memerdekakan ) budak, orang berutang, untuk jalan Allah, dan mereka yang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Penjelasan ini ada dalam Surah at-Taubah ayat 60. Berdasarkan dasar ini, para ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada fakir miskin yang non-Muslim. Ibnu Qudamah dalam Kitab al-Mughni mengatakan, dia tidak menemukan perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa zakat itu tidak boleh diberikan kepada non-Muslim.

Ibnu Mundzir mengatakan, semua ulama yang diketahuinya bersepakat bahwa orang-orang non-Muslim yang tinggal bersama umat Islam ( dzimmi ) tidak diberikan apa pun dari zakat. Pernyataan tersebut juga berdasarkan hadis Nabi. Kepada Muaz bin Jabal ketika beliau mengutusnya ke Yaman, beliau menyampaikan sabdanya.

Sabda tersebut berbunyi, “…apabila mereka menaatimu dalam masalah ini, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan bagi mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang miskin di antara mereka.” ( HR Bukhari Muslim ). Kata ganti orang ketiga pada kata ‘aghniya’ihim’ dalam keterangan itu kembalinya kepada orang kaya Muslim.

Dengan dalil, zakat itu tidak diwajibkan kepada orang-orang kaya dari kalangan yang bukan Muslim. Oleh karena itu, dhamir atau kata ganti pada fuqara’ihim juga kembalinya kepada fakir miskin dari kalangan umat Islam. Namun, ayat 60 Surah at-Taubah tersebut menjelaskan ada pengecualian, yaitu umat Islam boleh memberikan zakat kepada non-Muslim dengan syarat pemberian itu melembutkan hatinya. Atau, ada harapan bahwa orang itu akan masuk Islam setelah melihat tanda-tanda ketertarikannya pada Islam. Mereka inilah yang disebut sebagai golongan yang dibujuk hatinya ( al-muallafati qulubuhum ). Tapi, hal itu diserahkan kepada pemimpin umat Islam untuk melakukan penilaian dan penelitian, bukan diserahkan kepada setiap orang.

Dalam  konteks  keindonesiaan,  hal  itu  bisa  diserahkan  kepada Badan  Amil  Zakat  Nasional  ( Baznas ) atau lembaga-lembaga zakat profesional lainnya.  Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 30 Desember 2011 / 5 Safar 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s