Memelihara Anjing


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Saya memelihara anjing di rumah, salahkah saya sebagai Muslimah menyayangi anjing? Dalam syariat Islam, sesungguhnya apakah yang dinajiskan dari anjing dan pada cucian ke berapa menggunakan tanah saat membersihkan diri dari najis anjing?

Ratih Ws, Semarang

Jawaban :

Anjing adalah hamba Allah yang berhak memperoleh kasih sayang secara proporsional. Ada banyak manfaat pada anjing jika kita menyayangi berdasarkan tuntunan Allah SWT. Soal kenajisan anjing, ada konsensus ulama dan ada juga perbedaan pendapat di antara mereka. Para ulama bersepakat bahwa kotoran dan air kencing anjing adalah najis.

Imam Nawawi dalam kitabnya, al-Majmu’, menjelaskan sikap Imam Baihaqi yang mengatakan, umat Islam sepakat air kencing anjing najis. Begitu juga air kencing dan kotoran semua binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya. Sedangkan, untuk air liur dan ludah anjing, jumhur ulama menegaskan, najis yang mewajibkan untuk mencuci bejana yang dijilat oleh anjing dan menumpahkan yang ada di dalamnya.

Dari Imam Muslim, dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasul bersabda, “Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.” Bagian tubuh anjing yang lain, seperti bulu dan kepala, para ulama berbeda pendapat dalam masalah kenajisannya.

Mazhab Syafii dan mazhab Hanbali berpendapat, semua bagian tubuh anjing adalah najis dengan menganalogikan pada air liurnya. Mazhab Hanafi, Maliki, dan salah satu riwayat dari mazhab Hanbali berpendapat, bagian tubuh anjing yang lain seperti bulunya adalah suci dan tidak najis. Itu merujuk pada kebolehan memilikinya dengan tujuan berburu atau sebagai anjing penjaga.

Alasan lainnya, tak ada teks dalil yang menetapkan kenajisan bagian tubuh anjing lain, sedangkan memanfaatkan anjing merupakan perkara yang terjadi umum dalam masyarakat. Ibnu Taimiyah menjelaskan, Nabi memiliki anjing dengan tujuan berburu, menggembalakan hewan ternak, dan sebagai penjaga.

Ini pasti menyebabkan orang yang mempunyai anjing bersentuhan dengan kulit anjing yang basah atau terkena percikan air dari bulunya. Pendapat yang mengatakan bulunya itu najis akan menyebabkan kesulitan bagi umat. Padahal, Allah menghilangkan kesusahan itu. Dari penjelasan ini, akan terkena najis bila badan atau pakaian kita terkena kotoran dan kencing anjing atau terkena air liur dan ludahnya.

Adapun cara menyucikan sesuatu yang terkena najis dari anjing adalah jika najis itu tidak di tanah, seperti di bejana, pakaian, atau tangan, harus dicuci sebanyak tujuh kali. Salah satunya dengan tanah seperti penjelasan hadis di atas. Lebih bagus jika dicuci dulu dengan tanah. Tapi, jika tidak maka pada urutan ke berapa pun tidak menjadi masalah. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 27 Desember 2011 / 2 Safar 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Syariah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Memelihara Anjing

  1. Ali Hasan says:

    Kenapa air liur anjing najis, sedangkan air liur kucing tidak najis? Kenapa kotoran anjing najis, sedangkan kotoran kucing tidak najis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s