Nikah dengan Niat Talak


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apakah hukumnya bila ada seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan melengkapi seluruh syarat dan rukun nikah, tapi dia berniat dalam hati akan menalak wanita itu setelah beberapa waktu ? Dan, apakah nikah seperti itu sama dengan nikah mut’ah ?

Fatimah Sahra – Makassar

Jawaban :

Al-Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa telah menjadi ijmak ( konsensus ) seluruh ulama bahwa nikah mut’ah hukumnya haram, kecuali kaum Syiah Rafidhah. Nikah mut’ah adalah nikah dengan imbalan harta dan jangka waktunya telah disepakati antara laki-laki dan perempuan. Ikatan pernikahannya akan putus meski tanpa talak, serta tidak ada kewajiban bagi laki-laki untuk menafkahi, memberi tempat tinggal, dan tidak ada saling mewarisi antara mereka.

Ijmak itu juga bersandarkan kepada hadis Nabi SAW. Diriwayatkan dari Rabi bin Sabrah ra, sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku pernah mengizinkan nikah mut’ah dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat. Oleh karena itu, barangsiapa yang masih mempunyai ikatan mut’ah, maka segera lepaskanlah dan jangan kalian ambil apa yang telah kalian berikan kepada wanita yang kalian mut’ah itu. “     ( HR Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban ).

Sedangkan, nikah dengan niat talak adalah pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang cukup semua syarat dan rukun nikahnya. Namun, ada niat dalam hati suami untuk menalak istrinya setelah pernikahan berjalan beberapa waktu. Jadi, ada perbedaan di antara nikah mut’ah dan nikah dengan niat talak.

Dalam nikah mut’ah, disebutkan atau diketahui oleh kedua belah pihak jangka waktu pernikahannya, sedangkan dalam nikah dengan niat talak hal itu tidak di sebutkan dan hanya menjadi niat dalam hati sang suami. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum nikah dengan niat talak.

Pertama, mayoritas ulama berpendapat bahwa nikah ini sah karena mencukupi semua syarat dan rukun nikah serta tidak ada hal yang menghalanginya. Kedua, ada ulama yang berpendapat bahwa nikah ini batal dan hukumnya sama dengan hukum nikah mut’ah. Adalah Imam al-Auza’i dan ulama terakhir dari Mazhab Hanbali serta Syekh Rasyid Ridho yang memegang pendapat kedua ini.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa pernikahan ini adalah haram karena mengandung penipuan dan kecurangan.

Tetapi, akadnya sah dan akibat dari akad nikah itu tetap berlaku, seperti kewajiban menyediakan tempat tinggal, nafkah, dan hak saling mewarisi. Ini merupakan pendapat lembaga fatwa organisasi negara-negara Islam dan juga ulama kontemporer, seperti Syekh Ibnu Utsaimin. Dan, pendapat inilah yang kuat karena nikah seperti ini mengandung beberapa hal berikut: adanya penipuan dan kecurangan terhadap perempuan dan walinya, adanya sikap memain-mainkan akad nikah yang merupakan ikatan yang kuat dalam Islam, mirip dengan nikah mut’ah, dapat merusak kehormatan umat Islam. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 23 Desember 2011/27 Muharam 1433

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s