Aqiqah atau Qurban Dahulu?


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Ustadz jika kita belum pernah diaqiqahkan orang tua pada saat bayi namun pada saat ini sebagai anaknya telah punya kemampuan, pertanyaan saya mana yang harus didahulukan qurban dulu atau aqiqah? Dan apakah pelaksanaan aqiqah masih tetap dituntut kewajibannya sampai seumur hidup jika belum diaqiqahkan orang tua.

Terima kasih.

HP. 085692277007

Jawaban:

Hukum menyelenggarakan aqiqah adalah sunnah, bukan wajib. Dalil yang menunjukkan adalah hadis yang diriwayatkan Ahmad dari ‘Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwasanya Rasulullah SAW  bersabda, “Barangsiapa diantara kalian ada yang suka berkurban ( mengaqiqahi ) untuk anaknya, maka silakan melakukan. Untuk satu putra dua kambing dan satu putri satu kambing” ( HR. Ahmad ).

Seandainya menyelenggarakan aqiqah wajib, maka Rasulullah SAW  tidak akan mengaitkannya dengan “mahabbah” ( kesukaan ). Lafadz  “Barangsiapa diantara kalian ada yang suka” menunjukkan bahwa seorang mukallaf bisa melakukannya atau tidak. Karena itu, lafadz ini menjadi qarinah ( indikasi ) bahwa penyelenggaraan aqiqah hukumnya sunnah, bukan wajib.

Adapun hadis yang menyatakan bahwa anak digadaikan dengan aqiqahnya, misalnya hadis berikut: “Dari Samurah bin Jundub bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberi nama.( HR. Abu Dawud )

Maka, hadis ini tidak menunjukkan kewajiban aqiqah tapi hanya menunjukkan Ta’kidul Istihbab ( penekanan anjuran ) saja. Waktu penyelenggaraan aqiqah adalah hari ke-7 dari kelahiran bayi  berdasarkan hadis Samurah di atas. Jika belum memungkinkan maka bisa mengambil hari ke-14  atau ke-21 berdasarkan fatwa Aisyah berikut: “Dari Ummu Karz beliau berkata,’Seorang wanita dari keluarga Abdurrahman bin Abubakar berkata,’Jika istri Abdurrahman melahirkan seorang putra maka kita akan menyembelihkan untuknya seekor unta. Maka Aisyah berkata,’tidak, tetapi sunnahnya adalah untuk putra dua kambing yang setara dan untuk putri satu kambing. Dimasak dalam keadaan sudah dipotong-potong dan tidak dipatahkan tulangnya. Lalu dimakan, dibuat menjamu, dan dishodaqohkan. Hal itu dilakukan pada hari ke-7, jika tidak maka hari ke-14 jika tidak maka hari ke 21” ( Musnad Ishaq bin Rahawaih ).

Fatwa Shahabat meskipun bukan dalil, tetapi dalam kondisi tidak ditemukan dalil maka Fatwa Shahabat adalah jenis ijtihad yang paling tinggi karena mereka adalah orang  yang paling dekat dengan Nabi dan mengerti hadis-hadis beliau. Jadi, fatwa Aisyah ini bisa dijadikan sebagai dasar karena mustahil beliau berfatwa tanpa dasar nash yang beliau ketahui.

Jika sudah lewat hari ke-21, maka penyelenggaraan aqiqah tidak disyariatkan karena tidak ada dalil yang menunjukkannya. Tidak bisa diqiyaskan, misalnya menyelenggarakan aqiqah setiap kelipatan hari ke-7 setelah hari ke-21 ( hari ke-28, jika tidak bisa hari ke- 35 dst ) karena penyelenggaraan aqiqah termasuk ibadah dan syariat ibadah harus ditetapkan berdasarkan nash, bukan qiyas.

Jika menyelenggarakan aqiqah di antara hari ke-7, 14, dan 21 ( misalnya hari ke-3 atau ke-9, atau ke 19 ) maka aqiqahnya sah, karena penyebutan hari ke-7 pada hadis Samurah adalah pemilihan waktu yang paling afdhol, bukan pengikat keabsahan aqiqah. Yang semisal dengan ini adalah persoalan pemberian nama. Berdasarkan hadis Samurah, pemberian nama bayi afdholnya hari ke-7, tapi Nabi sendiri memberi nama putranya yaitu Ibrahim pada hari pertama. Karena itu, penetapan hari ke-7 bukan menjadi syarat sah namun sekedar pemilihan waktu yang paling afdhol.

Jadi, tidak ada syariat aqiqah setelah hari ke-21, apalagi jika sudah baligh. Adapun riwayat bahwa Nabi mengaqiqahi dirinya sendiri setelah masa kenabian, yaitu: “Dari Anas, Bahwasanya Nabi saw mengaqiqahi dirinya sendiri sesudah diutus menjadi Nabi “( HR. Al-Bazzar ).

Maka ini adalah riwayat yang lemah karena ada perawi yang bernama Abdullah bin Al-Muharror. Al-Bazzar mengatakan; dia Dhaif Jiddan ( sangat lemah ). An-Nawawi mengatakan hadis ini bathil, sementara Al-Baihaqy menilainya munkar. Jadi, tidak ada syariat aqiqah setelah baligh sebagaimana tidak ada syariat mengaqiqahi diri sendiri.

Adapun berkurban, maka hukumnya Sunnah Muakkad ( sunnah yang dikuatkan ) berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Allah Swt berfirman, “Shalatlah untuk Rabbmu dan berkurbanlah “ (QS. Al-Kautsar: 2).

Rasulullah saw bersabda; “Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW  bersabda, ‘Barangsiapa memiliki keluasan (kekayaan) dan tidak berkurban maka jangan mendekati tempat shalat kami” ( HR. Ibnu Majah )

Berdasarkan paparan di atas, yaitu hukum sunnahnya menyelenggarakan aqiqah ( bukan wajib ), tidak disyariatkannya aqiqah setelah baligh, tidak disyariatkannya mengaqiqahi diri sendiri, dan sunnah muakkadnya berkurban maka lebih tepat jika memilih melakukan kurban tanpa perlu berfikir menyelenggarakan aqiqah. Wallahu a’lam bish-shawwab

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 123,  8 – 22 Dzulhijjah 1432 H  /  4 – 18 November 2011 M

KH. A Cholil Ridwan, Lc,  Ketua MUI Pusat, Pengasuh PP Husnayain Jakarta

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Fiqih, Keluarga, Kurban and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Aqiqah atau Qurban Dahulu?

  1. liana fe says:

    Alhamdulillaah..,syukron admin,jazakumullahu khairan.izin share ^_^

  2. Aqiqah says:

    Hi! I’m at work browsing your blog from my new iphone! Just wanted to say I love reading through your blog and look forward to all your posts! Keep up the outstanding work!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s