Mukmin Insya Allah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Mohon dijelaskan apakah hukumnya jika ada seorang Muslim ketika ditanya orang lain, “Apakah kamu Mukmin?”, lalu mengatakan, “Saya Mukmin, insya Allah”. Hal tersebut terkesan bahwa orang yang mengatakannya tidak begitu yakin dengan keimanannya.

Musa – Bengkulu

Jawaban :

Ungkapan seorang Muslim ,”Saya Mukmin, insya Allah” ini di kalangan ulama disebut dengan istilah al-itstitsna` fi al-iman, yang berarti pengecualian dalam masalah keimanan. Dan, masalah ini sudah menjadi perdebatan panjang di kalangan ulama sejak zaman dahulu.

Ada yang mengatakan bahwa haram hukumnya al-itstitsna` fi al-iman. Di antaranya kelompok al-Murjiah yang mengatakan bahwa iman itu satu, yaitu keyakinan dalam hati yang tidak bertambah dan berkurang dan menganggap orang yang mengatakan “Saya Mukmin, insya Allah” adalah orang yang ragu dengan keimanannya.

Menurut ahlus sunnah bahwa hal itu tidak mesti menunjukkan keraguan akan keimanan, masih perlu diperinci lagi. Jika al-itstitsna ( pengecualian ) itu berkaitan dengan akar keimanan yang ada dalam hati, maka hukumnya adalah haram, karena hal itu mengandung keraguan akan keimanan yang seharusnya kokoh tertanam dalam hati seorang Mukmin.

Adapun jika pengecualian itu berkaitan dengan amal perbuatan, hal itu dibolehkan. Karena, amal ibadah dan kewajiban seorang Mukmin itu sangat banyak dan beragam, seseorang tidak bisa memastikan bahwa dia telah melaksanakannya dengan sempurna.

Bahkan sebaliknya, seorang Mukmin hendaknya merasa khawatir tidak dapat melakukannya dengan baik atau sesuai yang diperintahkan Allah SWT, tidak boleh menganggap dirinya telah suci, bertakwa, dan telah banyak melakukan kebaikan.

Allah berfriman, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa ( QS al-Najm [53] : 32 ).

Mengatakan ‘insya Allah’ dengan tujuan untuk mengharapkan berkah dengan menyebut nama Allah atau untuk menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui akhir dari segala sesuatu dan hanya Allah yang Mahatahu seseorang bakal wafat dalam keadaan beriman atau tidak, dalam hal ini dibolehkan.

Al-Hafidz Abdul Ghani al-Maqdisi mengatakan bahwa al-itstitsna` fi al-iman itu merupakan hal yang biasa dilakukan. Jika seseorang ditanya, “Apakah kamu seorang Mukmin? Maka, dia menjawab, “Insya Allah”. Hal itu diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Alqamah bin Qais, al-Aswad bin Yazid,  Abu Wail Syaqiq bin Salamah, Masruq bin al-Ajda’, Mansur bin al-Mu’tamir, Ibrahim al-Nakha’i, Mughirah bin Miqsam, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lainnya. Dan, ini merupakan pengecualian atas keyakinan sebagaimana firman Allah SWT, “Bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut ( QS al-Fath [48] : 27 ).

Dalam ayat ini Allah SWT melakukan pengecualian, padahal Dia tidak ragu sama sekali bahwa kaum Muslimin akan memasuki Masjidil Haram dengan aman. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat , 16 Desember 2011 / 20  Muharam 1433

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s