Warisan Atas Nama Almarhum


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Kami mohon diberikan masukkan atau penjelasan mengenai pembagian harta warisan. Ayah kami telah meninggal dunia pada September 2005, selama hidupnya almarhum memiliki 2 ( dua ) orang istri, dari istri pertama memiliki 2 ( dua ) orang anak dan dari istri kedua memiliki 3 ( tiga ) orang anak, kesemuanya adalah anak laki-laki dan saya adalah anak pertama dari istri yang pertama.

Kepada masing-masing istrinya almarhum memberikan rumah dan sebidang tanah kavling sebagai investasi. Sebagai penjelasan, untuk rumah dan kavling yang diberikan kepada istri kedua masih atas nama ayah kami, sedangkan untuk istri pertama rumah dan tanah kavling sejak awal pembelian sudah diatasnamakan istri pertama.

Pertanyaan saya adalah apakah istri dan anak-anak dari istri yang pertama memiliki hak atas hasil penjualan apabila rumah dan tanah kavling yang masih atas nama ayah kami tersebut dijual, karena kami mengetahui bahwa tanah kavling tersebut sudah dijual dan selanjutnya rumah yang akan mereka jual.
Atas penjelasannya saya mengucapkan terima kasih.

Hamba Allah

Jawaban :

Adalah kewajiban para ayah untuk memberikan nafkah dan pakaian kepada anak-anaknya dengan baik ( ma’ruf ) ( QS: al-Baqarah [2] : 233 ).

Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menafkahi keluarga dan keturunan. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah SAW, “Satu dinar, kamu nafkahkan di jalan Allah. Satu dinar kamu nafkahkan untuk membebaskan budak. Satu dinar, kamu bersedekah untuk orang miskin. Dan satu dinar, kamu nafkahkan untuk keluargamu, ( di antara semuanya ) yang paling besar pahalanya adalah satu dinar yang kamu nafkahkan untuk keluargamu.” ( HR. Muslim, No 995 ).

Berdasarkan informasi sekilas di atas, semasa hidupnya almarhum telah berupaya untuk adil dalam menata nafkah untuk kedua istri beserta anak-anaknya. Terbukti dengan pernyataan “Kepada masing-masing istrinya almarhum memberikan rumah dan sebidang tanah kavling sebagai investasi”. Namun, ada kendala dalam masalah rumah dan sebidang tanah kavling untuk istri kedua, yang masih atas nama almarhum.

Kepemilikan tanah dan rumah sudah berpindah kepada istri kedua jika tidak ada hal-hal lain yang membatalkan secara hukum meski masih atas nama almarhum. Karena itu, pihak dari istri pertama tidak ada hak dari aset yang telah diberikan kepada pihak istri kedua, kecuali ada hal lain yang membatalkan secara hukum. Namun, dalam kasus ini tidak disebutkan harta peninggalan  almarhum yang lainnya. Jika ada, maka harta tersebut harus diselesaikan kewarisannya.

Dengan catatan, tidak ada bedanya bagian istri pertama dan kedua ( mereka mendapatkan 1/8 untuk berdua, setelah diselesaikan harta bersama / gono-gini di antara suami dan para istri ). Begitu juga, tidak ada bedanya anak dari istri pertama dan kedua. Mereka ( 5 anak laki-laki ) mendapatkan sisa bagian dari istri-istri almarhum, dengan bagian yang sama antara anak laki-laki dari istri pertama dan kedua. Wallahu a’lam  ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 13 Desember 2011/17 Muharam 1433

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Waris and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s