Waris Bagi Istri


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Saya ingin bertanya tentang pembagian waris seorang laki-laki yang wafat meninggalkan seorang istri, tidak memiliki ayah dan ibu lagi. Dia juga tidak memiliki anak, namun mengangkat anak perempuan, sudah tidak memiliki saudara kandung ( seayah dan seibu ) karena sudah meninggal semuanya. Ia memiliki satu saudara laki-laki seayah Muslim dan satu saudara perempuan seayah non-Muslim.

Bagaimana cara membagi warisnya? Apakah anggota keluarga non-Muslim masih memiliki hak waris dan apa pula yang dimaksud dengan harta bawaan almarhum?

Marina P

Jawaban :

Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Rasulullah bersabda, “Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang-orang. Dan pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkan kepada orang-orang. Dan ilmu waris akan dicabut lalu fitnah menyebar, sampai-sampai ada dua orang yang berseteru dalam masalah warisan namun tidak menemukan orang yang bisa menjawabnya.” ( HR ad-Daruqutni dan al-Hakim ).

Sering kali di antara penyebab perpecahan keluarga adalah masalah harta waris. Dari banyak kasus yang terjadi, umumnya berhulu dari kurang pahamnya para anggota keluarga atas aturan dan ketentuan hukum waris Islam. Sebagian anggota keluarga ada yang ingin menerapkan hukum waris versi adat, yang lainnya mau versi Barat, dan sebagian mau pakai hukum Islam.

Seandainya orang tua mereka telah mengenalkan dan mendidik mereka sejak kecil dengan ilmu waris Islam, niscaya perpecahan keluarga tidak akan terjadi. Jalan keluar untuk menghindari perpecahan keluarga adalah mempersiapkan generasi Muslim dengan bekal ilmu hukum waris. Sehingga, sejak awal mereka sudah punya pedoman untuk bekal ketika dewasa nanti.

Merujuk pada kasus di atas, almarhum hanya meninggalkan istri, satu saudara laki-laki seayah, satu saudara perempuan seayah non-Muslim, dan satu anak angkat perempuan. Maka, ahli waris yang berhak hanyalah istri dan saudara laki-laki yang Muslim. Adapun saudara perempuan yang non-Muslim tidak memperoleh hak waris.

Ini merujuk pada sabda Rasulullah, “Tidaklah berhak seorang Muslim mewarisi orang kafir dan tidak pula orang kafir mewarisi Muslim.” ( HR Bukhari dan Muslim ). Begitu pun anak angkat perempuan tidak mendapatkan hak waris karena tidak adanya sebab kewarisan.Tapi, ia berhak mendapatkan selain hak waris, seperti hibah, hadiah, atau wasiat dengan syarat tidak melebihi 1/3-nya.

Jadi, istri mendapatkan ¼ bagian karena almarhum tidak memiliki keturunan, setelah diselesaikan harta bersama antara suami istri. Dan sisanya diberikan kepada saudara laki-laki seayah. Adapun harta bawaan almarhum adalah harta yang dimiliki almarhum sebelum pernikahan. Harta tersebut dimasukkan menjadi harta warisan. Wallahu a’lam ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 28 November 2011/2 Muharam 1433

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Waris and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s