Shalat Jamaah Ketika Hujan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, yang saya tahu, kita dibolehkan meninggalkan shalat jamaah ketika turun hujan, tapi apakah hujan itu dibedakan antara hujan lebat dan hujan ringan atau semua hujan dapat dijadikan alasan untuk meninggalkan shalat jamaah di masjid?

Hamba Allah

Jawaban :

Menurut pendapat yang kuat dari beberapa penda pat ulama, shalat berjamaah di masjid hukumnya wajib bagi laki-laki yang mampu. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan azannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti shalat jamaah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka.” ( HR Bukhari dan Muslim ).

Dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata: “Seorang buta mendatangi Nabi SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid.’ Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah SAW agar dibolehkan shalat di rumahnya. Beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan Nabi SAW, Rasulullah lalu memanggilnya dan bertanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan azan shalat?’ Dia menjawab, ‘Ya. Lalu Beliau berkata, ‘Penuhilah!’ (tunaikanlah shalat jamaah).”

Meskipun shalat jamaah hukumnya wajib, para ulama menyebutkan bahwa dibolehkan untuk tidak shalat berjamaah di masjid dalam beberapa kondisi, di antaranya adalah turunnya hujan yang membasahi pakaian. Sesuai dengan firman Allah SWT, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”  (QS al-Hajj [22] : 78 ).

Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni menjelaskan, “Dibolehkan untuk meninggalkan shalat Jumat dan shalat berjamaah di masjid karena hujan yang menyebabkan pakaian basah kuyup dan lumpur yang membuat susah pada diri dan pakaiannya.”

Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya dia pernah berkata kepada muazinnya ketika hujan turun, “Apabila engkau telah melafalkan: Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah, maka jangan mengatakan: Hayya alash shalaah, akan tetapi katakan: Shalluu fii buyuutikum ( Shalatlah di rumah kalian ).”

Lalu, orang-orang ( yang mendengarkannya seolah-olah ) mengingkari masalah tersebut. Ibnu Abbas lalu berkata, “Hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah SAW). Sesungguhnya shalat Jumat itu adalah kewajiban, dan aku tidak ingin menyuruh kalian keluar ( ke MASJID ) lalu kalian berjalan di atas tanah yang becek dan licin.”

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dalam kitabnya Al-Syarh al-Mumti’ ketika menjelaskan bahwa perkataan penulis: “Atau sakit dan merasa susah disebabkan hujan atau lumpur”, menyebutkan bahwa ini adalah alasan kesepuluh dibolehkannya meninggalkan shalat Jumat dan shalat jamaah. Jika seseorang takut akan sakit atau susah karena hujan atau lumpur, atau ketika hujan turun dan ia pergi untuk melaksanakan shalat Jumat atau jamaah dia akan sakit atau susah karena hujan tersebut, maka dia diperbolehkan untuk tidak berjamaah ke masjid. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 23 November 2011/27 Dzulhijjah 1432

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Shalat and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Shalat Jamaah Ketika Hujan

  1. Denmaz says:

    Sekedar menggarisbawahi kalimat —-” Menurut pendapat yang kuat dari beberapa penda pat ulama, shalat berjamaah di masjid hukumnya wajib bagi laki-laki yang mampu.”—–

    Setahu saya yg awam, ada 2 pendapat yg sama kuat tentang hukum shalat berjamaah, yaitu sunnah muakkadah (amat ditekankan tp tidak wajib, seperti oleh Imamiyah, Imam Maliki, imam Hanafi dan mayoritas ulama Imam Syafii) dan wajib ain (Imam Hambali, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah). Keduanya sama kuat, karena dikemukanan para alim ulama terkemuka disertai dalil2 yang kuat dan shahih. Jadi, menurut saya, tidak bisa menghakimi salah satu kuat, yg lain tidak kuat. Pilihan diserahkan kepada setiap hamba Allah, karena hanya Allah Yang Maha Tahu mana yang paling hakiki, hanya saja, kebaikan yang diperoleh dengan berjamaah amat besar dan sangat merugi bila tidak melakukan.
    Adalah lebih bijak, mengemukakan dua pendapat yang sama kuat, dan pilihan diserahkan kepada pembaca/pendengar/kaum muslimin/muslimat.
    Maaf bila tak berkenan. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s