Penanggalan Hijriah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, mengapa penanggalan tahun milik orang Islam dimulai dari hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan bukan dari tanggal kelahiran beliau seperti penanggalan Miladiyah al-Masih?

Monba, Sulawesi Tenggara

Jawaban :

Penetapan ini terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Diriwayatkan dari al-Hakim dari al-Sya’bi bahwa Abu Musa mengirim surat kepada khalifah Umar menyebutkan telah datang surat dari Umar, tapi tidak dituliskan tanggal dan tahunnya. Kemudian, Umar mengumpulkan para sahabat membahas masalah itu.

Sebagian dari mereka mengusulkan memulai penanggalan dari waktu kenabian, sebagian yang lain mengusulkan mulai dari hijrah. Umar berkata, “Hijrah telah memisahkan antara hak dan batil, mulailah penanggalan dari hijrah.” Dan, itu terjadi pada tahun ke-17 Hijriah. Ketika mereka sepakat, sebagian dari mereka mengusulkan mulai dari Ramadhan.

Umar berkata, “Mulailah dari Muharam karena waktu itulah jamaah haji pulang dari haji mereka, maka sepakatlah mereka. Masih banyak lagi riwayat yang menyebutkan, penetapan itu dimulai pada masa kekhalifahan Umar. Penetapan Muharam sebagai permulaan kalender karena ia bulan haram ( mulia ) dan bulan pulangnya jamaah haji ke negeri mereka.

Muharam juga dinilai sebagai bulan awal munculnya semangat berhijrah dari kalangan sahabat setelah sebagian penduduk Madinah berbaiat atau bersumpah janji kepada Nabi pada waktu haji. Alasan para sahabat memilih peristiwa hijrahnya Nabi sebagai awal sistem penanggalan Islam adalah pertama, peristiwa hijrah merupakan momentum pembeda antara hak dan batil.

Alasan kedua, Islam adalah agama prinsip, bukan agama individu, jadi sistem penanggalan Islam tidak dikaitkan dengan hari kelahiran dan kematian Rasulullah. Itulah yang dipahami para sahabat bahwa Islam merupakan risalah kemanusiaan dan universal, bukan risalah individu dari hamba Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam surah Ali Imran ayat 144.

Sedangkan, alasan ketiga, hijrah merupakan gerak kebersamaan yang melibatkan umat Islam, Rasulullah dan keluarganya, para sahabat, baik yang miskin maupun kaya, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa. Mereka semuanya sama di hadapan Allah bergantung pada niat dan ketakwaan masing-masing. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 25 November 2011/29 Dzulhijjah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Sejarah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s