Penggunaan Gelar Haji


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, zaman sekarang banyak sekali orang yang ingin disebut haji. Padahal, Nabi Muhammad dan para sahabat menunaikan ibadah haji tetapi mereka tidak mencantumkan gelar haji. Tidakkah pencantuman gelar haji termasuk bidah?

Hamba Allah

Jawaban :

Memang benar, Rasulullah dan para sahabat beliau tidak menggunakan gelar haji di depan nama mereka padahal mereka telah berhaji. Tetapi, itu tidak berarti menggunakan gelar haji atau hajjah di depan nama seseorang merupakan bidah. Penggunaan gelar keilmuan  seperti profesor, doktor, MA, atau keulamaan seperti kiai haji, buya, syekh, imam, atau allamah juga tak dikenal pada zaman Nabi.

Apakah itu berarti penggunaan gelar keulamaan semacam itu juga bidah dan dilarang? Berapa banyak ulama yang kita kenal mendapatkan sebutan imam atau syekh di depan namanya seperti Imam Bukhari, Imam Syafi’i, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, dan Syekh Abd al-‘Aziz bin Baz? Ibnu Taimiyah bahkan bergelar hujjat al-Islam dan tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang bergelar hujjat al-Islam.

Pada dasarnya tidak ada perintah dan larangan  menggunakan gelar haji, yang dilarang memberikan gelar jelek bagi seseorang, baik dia suka maupun tidak.  “.… Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah ( panggilan ) buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim ( QS al-Hujurat [49] : 11 ).

Yang dikhawatirkan, gelar haji itu menjadi tujuan  dalam melaksanakan ibadah haji agar dengan gelar tersebut memperoleh kehormatan dalam masyarakat, sehingga menimbulkan riya dalam beribadah. Semuanya bergantung pada niat. Jika ada orang sengaja memakai gelar agar dipuji, itu bertentangan dengan akhlak Islam.

Tetapi, kalau penggunaan gelar untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak lagi melakukan perbuatan maksiat yang akhirnya menimbulkan rasa malu kepada Allah, tentu baik. Jadi, tidak selamanya gelar haji mengandung konotasi negatif semacam riya, kesombongan, dan sebagainya, namun bisa juga mengandung nilai-nilai positif seperti selalu bermuhasabah dan berdakwah di jalan Allah.

Menjadi tidak bijak bila kita  langsung menyamaratakan setiap masalah dengan satu sikap. Semuanya mesti kita dudukkan persoalannya secara baik dan proporsional. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 15 November 2011 /19 Dzulhijjah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Penggunaan Gelar Haji

  1. karnadi kasan sardji says:

    Haji adalah gelar keagaamaan yang dikejar sebagian masyarakat kita, khususnya di daerah. Orang dengan segala caranya untuk dapat pergi haji…yang penting setelah pulang dari haji, orang akan menghormatinya sebagai Pak Haji atau Ibu Hajjah….suatu kebanggaan tersendiri apabila telah menyandang gelar Haji/Hajjah….padahal waktu mau berangkat haji harus menjual harta berupa sawah, ladang dan kebun. Janganlah mengejar gelar haji kalau kita masih belum mampu….kecuali kalau bekal kita memang telah cukup….janganlah kita menjadi miskin setelah pulang dari haji…SEMOGA ALLAH MENJADIKAN KITA HAJI YANG MABRUR….Aamiin

  2. auliasayang says:

    Hajji adalah perbuatan ibadah yang tidak boleh terkontaminasi oleh unsur ria walau sekecil apapun.. suatu gelar/titel adalah suatu kehormatan yang membuat orang masyhur karenanya, seperti orang telah berpuasa apakah boleh dia memakai gelar Shaaimun

    • auliasayang says:

      Hajji adalah perbuatan ibadah yang tidak boleh terkontaminasi oleh unsur ria walau sekecil apapun.. suatu gelar/titel adalah suatu kehormatan yang membuat orang masyhur karenanya, seperti orang telah berpuasa apakah boleh dia memakai gelar Shaaimun, sedangkan gelar keilmuan itutidak ada sangkut pautnya dengan ibadah, begitupun gelar Syaekh, ustaz dsb. namun demikian itu tergantung pinilaian pribadi masing-masing, namun selama ini masalah gelar hajji tidak pernah diperso’alkan,, cuma yang perlu kita ingat dan sadari jangan sampai gelar hajji itu menghilangkan keikhlasan dalam beribadah dan jangan sampai terkontaminasi dengan keriyaan, semoga menjadi hajji yang mabrur. Amin Ya Robbal ‘alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s