Menjual Kulit Hewan Kurban


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bagaimanakah hukumnya menjual kulit hewan kurban dan menjadikan harga hasil jualan itu untuk membayar upah penjagal hewan kurban tersebut ?

Hasan – Solo

Jawaban :

Dari Ali bin Abi Thalib, berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku untuk mengurus hewan kurbannya dan agar aku menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan bulunya serta tidak memberikan kepada tukang jagal darinya. Kemudian Ali berkata:’Kami memberinya upah dari harta kami.’” ( Muttafaq alaih dengan lafaz Muslim). Hadis ini menunujukkan larangan bagi yang berkurban menjual daging dan kulit dari hewan kurbannya. Karena telah ia kurbankan, menjadi milik Allah dan apa yang telah menjadi milik Allah tidak boleh diperjualbelikan.

Yang boleh ia lakukan adalah memanfaatkan daging atau kulit hewan itu dengan memakan sebagian dagingnya dan membuat barang yang bermanfaat dari kulitnya atau memberikan daging dan kulitnya kepada fakir miskin sebagai sedekah.

Hal ini dipertegas hadis dari Abi Sa’id: Sesungguhnya Qatadah bin Nu’man memberi tahu kepadanya bahwa Nabi SAW berdiri lalu bersabda: “Aku pernah menyuruhmu untuk tidak akan makan daging kurban sesudah tiga hari supaya daging itu merata diterima ( fakir miskin ), tetapi sekarang aku memperbolehkannya untuk kamu. Karena itu, makanlah daripadanya sesukamu dan jangan kamu jual daging hadyu dan daging kurban, makanlah, sedekahkanlah, dan pergunakanlah kulitnya, tetapi jangan kamu jual dia, kalau kamu diberi daging kurban, maka makanlah jika kamu berkenan. ( HR Ahmad ).

Ada pula hadis lain yang menegaskan pelarangan menjual kulit hewan kurban. “Siapa yang menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak ada kurban untuknya ( tidak diterima ).” ( HR al-Hakim ).

Hadis-hadis menunjukkan pelarangan menjual kulit hewan kurban, lalu menjadikan hasilnya sebagai upah bagi penjagalnya atau memberikan kulit hewan kurban kepada penjagalnya sebagai upah. Imam Nawawi menjelaskan tentang larangan memberikan bagian hewan kurban kepada tukang jagal, “Karena memberikan kepadanya adalah sebagai ganti ( barter ) dari kerjanya, karena hal itu sama saja dengan menjualnya. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, maka upah penjagal hewan kurban itu dibayarkan oleh yang berkurban bukan dari daging atau kulit hewan kurbannya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 7 November 2011 /11 Dzulhijjah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Kurban and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s