Tidak Memotong Rambut dan Kuku Bagi Pekurban


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apa betul bagi orang yang berkurban disunahkan untuk tidak mencukur rambut dan memotong kuku? Dalam kitab Zadul Ma’ad karangan Ibnu al-Qayyim ( bahasa Indonesia ) jilid tiga dari tujuh jilid halaman 32-33 mengatakan bahwa larangan itu adalah terhadap binatangnya. Mohon dikoreksi kalau saya salah. Terima kasih, Ustadz.

Hamba Allah

Jawaban :

Memang benar ada larangan bagi yang akan berkurban, maksudnya bagi yang akan menyembelih kurban, untuk memotong kuku dan rambutnya dari semenjak awal Dzulhijjah sampai ia menyembelih kurbannya. Namun, hal ini hanya berkenaan dengan kesempurnaan berkurban. Sehingga, jika ada yang sengaja atau tidak sengaja memotong kuku atau rambutnya tidak diwajibkan membayar fidyah.

Tidak pula ada sanksi selain membaca istigfar. Hal tersebut juga tidak merusak ibadah kurban seseorang. Dalam hal ini, ada dua kelompok ulama yang menyampaikan pendapatnya. Pertama, ada yang mengatakan bahwa yang tidak dipotong adalah kuku dan rambut pekurbannya  ( orangnya ). Sedangkan yang kedua, ada yang menegaskan bahwa dilarang memotong kuku dan rambut hewan kurbannya.

Hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah RA dalam berbagai redaksi periwayatan di antaranya adalah dari Ummu Salamah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzulhijjah dan seseorang dari kalian ingin berkurban, hendaklah dia membiarkan rambut dan kukunya ( HR Muslim ).

Dalam redaksi yang lain disebutkan, dari Ummu Salamah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Apabila masuk 10 hari pertama Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih kurban, janganlah dia mengambil rambut dan kulitnya sedikit pun.” ( HR Muslim ).

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, “Siapa saja yang ingin berkurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berkurban.” ( HR Muslim, Abu Daud dan al-Nasa`i ).

Berdasarkan hadis-hadis di atas, maka disunahkan bagi yang ingin berkurban untuk tidak memotong rambut dan kukunya dari awal Dzulhijjah sampai ia selesai menyembelih kurbannya. Jadi, yang disunahkan adalah tidak memotong rambut dan kuku orang yang ingin berkurban bukan tidak memotong rambut dan kuku binatang yang ingin disembelih untuk kurban tersebut.

Alasannya, pertama, kata ganti ( dhamir ) dalam kalimat min sya’rihi wa basyarihi pada hadis di atas lebih tepat kembali kepada orang ( manusia ) karena kalau kembali kepada hewan kurban seharusnya dengan dhamir muannats sebagai pengganti kalimat udhhiyyah. Kedua, istilah bagi kulit hewan itu lebih tepat dengan sebutan jildun bukan basyarun.

Alasan ketiga, yang dimaksud dengan “jangan memotong kuku” tentu lebih tepat dimaksudkan untuk manusia, karena pada hewan ( baik unta, lembu, atau kambing ) tidak dikenal tradisi dipotong kukunya. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 1 November 2011/5 Dzulhijjah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Kurban and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s