Tasamuh, Sikap Seorang Haji Mabrur


Oleh : Ustadz Bobby Herwibowo

Bagaimana seharusnya sikap seseorang yang sudah berhaji atau yang mendapatkan predikat haji mabrur?

Ali Hamdi, Bogor

Jawaban :

Saat dalam jamuan Allah SWT di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, jamaah haji Indonesia melihat Islam sebagai agama mereka yang penuh warna. Tidak hanya warna kulit, tapi juga warna bahasa, dialek, praktik keagamaan, dan banyak hal lain.

Bila Muslimin di Indonesia sering bersitegang seputar masalah furu’iyah ( nonprinsipil ), seperti qunut, cara sedekap saat shalat, jari telunjuk yang digerakkan, atau diam saat tahiyyat dan lain-lain. Di sana, di kedua masjid yang mulia itu, tidak satu pun di antara jamaah haji yang hadir sibuk membahas tentang masalah tersebut. Semuanya berjalan dengan keberagaman yang indah. Tidak saling menyalahkan dan adanya kebebasan dalam praktik bermazhab membuat rahmat dalam ikhtilaf ( perbedaan ) terlihat begitu indah. Nyatanya, mayoritas jamaah haji Indonesia yang bermazhab Syafi’i, begitu mereka melakukan tawaf di Baitullah, mereka menggunakan mazhab imam yang lain yang berpendapat bahwa bersentuhan dengan lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu.

Begitulah seharusnya seorang jamaah haji mengambil satu pelajaran penting dari hidup keberagaman saat mereka beribadah di Tanah Suci. Mereka perlu memiliki sifat at-tasamuh        ( toleransi ) terhadap orang lain yang menjadi saudaranya sendiri, sehingga memandang siapa saja seperti kita memandang diri sendiri.

At-Tasamuh atau toleran terhadap orang lain dalam sebuah hadis baginda Rasul termasuk barometer keimanan dari seorang Muslim. “Iman yang paling baik adalah bersabar dan bersikap toleransi”. ( Shahih Al Jami’ 1097 ).

Tidak hanya sebagai barometer keimanan, at-tasamuh akan membuat seseorang dicintai oleh Tuhannya, sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan, “Sesungguhnya Allah mencintai keramahan dalam segala urusan.( Shahih Al Jami’ 1881 ). Ia juga akan meraih pertolongan Allah SWT, “Sesungguhnya Allah Maha Peramah, mencintai keramahan, meridainya, menolongnya, dan Dia tidak menolong kebengisan. ( Shahih Al Jami’ 1770 ).

Maka, at-tasamuh bagi seorang jamaah haji terefleksi dari keramahan dan kemurahan hatinya. Seperti saat berada di Masjidil Haram ataupun Nabawi, dengan begitu mudah ia mempersilakan orang yang ingin menumpang shalat. Begitu ringan ia bersedekah. Sigap membantu saudaranya seiman yang kesulitan. Maka, at-tasamuh adalah bagian penting dari kemabruran seorang jamaah haji, yang senantiasa berharap keridaan Tuhannya. Wallahu A’lam ■

Sumber : Jurnal Haji 1432 H,  Republika, Rabu, 26 Oktober 2011/  28 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bobby Herwibowo, Haji and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s