Melontar Jumrah


Oleh : Ustadz Bobby Herwibowo

Ustadz, kapankah waktu terbaik melontar jumrah itu. Terima kasih.

Muhammad Hadi, Demak

Jawaban :

Mulai tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah jamaah haji akan berada di Mina, kecuali mereka yang mengambil Nafar Awwal ( berangkat pada rombongan pertama yang meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah ). Selama beberapa hari itu, seluruh jamaah melakukan mabit ( bermalam / menginap ) di sana seraya memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah. Tak kalah pentingnya, ada satu aktivitas ritual yang statusnya wajib dilakukan oleh setiap jamaah yang tidak berhalangan kondisi fisiknya, yakni melontar jumrah.

Melontar jumrah adalah salah satu ibadah wajib bagi jamaah haji. Pelaksanaannya sangat menguras fisik dan tak jarang menimbulkan risiko bagi keselamatan mereka.

Melontar jumrah ( ramyul jimaar ) dimulai setelah matahari tergelincir waktu Zhuhur. Rentang masa diperbolehkannya melontar jumrah ini hingga tengah malam. Bagi jamaah haji Indonesia sebaiknya mengikuti petunjuk maktab atau ketua rombongan.

Karena, mereka lebih tahu kapan waktu yang tepat dan aman bagi jamaah haji Indonesia yang secara umum bertubuh lebih kecil dari pada bangsa lain. Jangan pernah hendak mengambil keutamaan ibadah ( afdhaliyah ) namun tidak memikirkan keselamatan jiwa!

Abdullah bin Umar ra pernah ditanya oleh seorang pria, “Kapankah sebaiknya aku melontar jumrah?” Abdullah menjawab, “Jika imam ( pimpinanmu ) melakukannya, maka ikutilah!” Orang itu masih mengejar, “Tapi kapan waktunya?” Abdullah menjawab, “Dulu kami melakukannya bila matahari zawal ( sudah tergelincir ).” ( HR Bukhari 1746 ).

Dari hadis ini, Abdullah bin Umar RA hendak memberitahukan bahwa hal terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji adalah mengikuti petunjuk imam ( pemimpin rombongan ), apalagi saat berada di Mina, maka mengikuti petunjuk pimpinan rombongan amat diperlukan demi keselamatan.

Adapun tata cara jumrah seperti yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah: Pertama, tertib, dan berurutan. Jumrah dimulai dari Ula, Wustha, dan Aqabah. Hal ini harus dilakukan secara berurutan. Siapa yang melakukannya tanpa mengikuti aturan yang benar, maka jumrahnya tidak sah.

Kedua, menggunakan batu kerikil ( hisha ). Batu yang diperkenankan adalah kerikil sebesar buku jari, bukan kerikil besar. Jumlah batu yang diperlukan bagi mereka yang Nafar Awwal adalah 49 batu, sedangkan mereka yang Nafar Tsani memerlukan 70 batu. Ketiga, mengucap takbir setiap kali melontar.

Keempat, melontar kerikil tujuh kali pada setiap jumrah. Mengucap takbir dan melontar kerikil ini seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA pada hadis Bukhari 1751. Kelima, batu kerikil harus tepat mengenai tugu jumrah dan masuk ke dalam lubang. Keenam, berdoa setiap kali menyelesaikan lontaran pada setiap jumrah. Ketujuh, melontar dengan memosisikan Mina ada di sebelah kanan dan Baitullah di sebelah kiri tubuh. Hal ini seperti terdapat dalam Shahih Bukhari no. 1748. Wallahu a’lam. ■

Sumber : Jurnal Haji 1432 H, Republika, Kamis, 20 Oktober 2011/22 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bobby Herwibowo, Haji and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s