Melewati Miqat tanpa Ihram


Oleh : Ustadz Bobby Herwibowo

Ustadz, dalam ibadah haji dikenal dengan istilah miqat. Apa sih maksudnya?

Heri Kurniawan, Purbalingga

Jawaban :

Memang, dalam pelaksanaan ibadah haji kita mengenal istilah miqat. Miqat itu artinya batas. Sebenarnya, miqat ini ada dua jenis, makani  ( tempat ) dan zamani ( waktu ). Miqat zamani tidak terlalu populer di kalangan jamaah haji, sebab miqat zamani ini adalah musim haji yang terdiri dari tiga bulan mulai dari Syawal hingga Dzulhijah. Adapun yang akrab di telinga jamaah tentang miqat adalah miqat makani ( batas tempat untuk berihram ).

Siapa orang yang melintasi miqat yang telah ditentukan, wajib baginya untuk berihram  (memakai pakaian dan berniat ihram). Melintasi miqat dengan berihram adalah sebuah kewajiban. Siapa yang melintasinya tanpa berihram, wajib baginya untuk membayar dam (denda) satu ekor kambing.

Hal ini berlaku tanpa terkecuali bagi setiap jamaah haji dan umrah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Begitu mereka melintasi miqat-miqat yang telah ditentukan, mereka haruslah berihram. Lalu, manakah miqat yang biasa digunakan oleh jamaah haji Indonesia? Jamaah haji Indonesia yang terlebih dahulu ke Madinah sebelum haji, maka miqat mereka adalah Dzul Hulaifah atau Bir Ali. Sedangkan jamaah haji yang datang langsung ke Makkah, miqat mereka adalah Yalamlam dan mereka dapat mengetahui miqat ini lewat informasi yang disampaikan oleh petugas dan kru pesawat yang ditumpangi.

Mengenai batas miqat-miqat ini, Ibnu Abbas RA meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW yang berbunyi, “Rasulullah SAW telah menetapkan tempat miqat untuk penduduk Madinah adalah Dzul Hulaifah. Al-Juhfah untuk penduduk Syam. Qarnul Manazil untuk penduduk Najd. Yalamlam untuk penduduk Yaman. Usai itu Rasulullah SAW bersabda, “Miqat-miqat itu diwajibkan bagi para penduduk masing-masing daerah dan bagi orang yang datang melewati daerah itu dan berniat melakukan ibadah haji maupun umrah. Adapun mereka yang tinggal setelah batas miqat di atas, maka miqatnya adalah rumahnya sendiri. Bahkan, penduduk Makkah dipersilakan mengambil miqat dari rumah mereka sendiri.” ( Muttafaq alaihi ).

Lalu, bagaimana hukumnya bila ada seseorang yang melintasi miqat, tetapi ia tidak berihram? Dalam kondisi ini, ada dua hal yang bisa ia lakukan. Pertama, ia kembali lagi ke miqat — bila memungkinkan untuknya — dan berihram dari sana. Kedua, bila ia tak mungkin kembali ke miqat karena khawatir tertinggal rombongan, ia diperkenankan berihram dari tempat ia berada. Namun, ia diwajibkan membayar dam sebesar satu ekor kambing.

Permasalahan seputar miqat ini mungkin juga dialami oleh jamaah haji yang menempuh jalur laut dan udara. Maka, bagi mereka kewajiban berihram harus tetap dilakukan saat melewati miqat, sama halnya seperti mereka yang menempuh jalur darat. Tidak ada halangan bagi mereka yang menempuh jalur udara dan laut untuk berihram di atas kendaraan yang mereka tumpangi. Wallahu a’lam. ■

Sumber : Jurnal Haji 1432 H,  Republika, Rabu,19 Oktober  2011 /  21 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bobby Herwibowo, Haji and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s