Mencium Hajar Aswad Lewat Joki 


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Bagaimana hukumnya mencium Hajar Aswad? Untuk menciumnya, kadang menyakiti orang lain seperti menginjak kaki dan menyikut. Dan, bagaimana dengan bantuan joki di sekitar Ka’bah yang menawarkan jasa mencium Hajar Aswad?

Hamba Allah

Jawaban :

Hajar Aswad atau batu hitam terletak di salah satu sudut Ka’bah yang mulia dan menjadi tempat dimulai dan berakhirnya tawaf. Batu ini asalnya dari surga seperti disebutkan dalam hadis sahih. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih dari susu, lalu berubah jadi hitam akibat dosa-dosa Bani Adam.” ( HR Timirzi, An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Khuzaemah, dan Al-Baihaqi ).

Hukum mencium Hajar Aswad adalah sunah ketika kita melakukan tawaf, bila tidak mendatangkan mudharat bagi orang yang tawaf atau orang lain, dan bukan merupakan suatu perkara wajib yang mesti dilakukan jamaah haji. Mencium Hajar Aswad itu karena sunah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad, bukan karena niat dan tujuan yang lain.

Hal itulah yang ditekankan oleh Umar bin Khattab di mana setelah mencium Hajar Aswad, beliau berkata, “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberi mudharat maupun manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku pun tidak akan melakukannya.” ( HR Bukhari dan Muslim ).

Jika dalam mencium Hajar Aswad ada unsur membahayakan orang yang tawaf atau kepada yang lainnya, beralihlah kepada pola kedua yang diajarkan Rasulullah, yaitu mengusap Hajar Aswad dengan tangan, lalu mencium tangan itu.

Jika pola ini juga tidak mungkin karena mengganggu orang lain atau sulit, berpindahlah pada pola ketiga yang juga diajarkan Rasul.

Caranya, dengan melambaikan tangan kanan saja ke arahnya, bukan dengan dua tangan tanpa mencium tangan. Prinsipnya, jangan laksanakan yang sunah dengan menabrak yang diharamkan.

Meminta bantuan joki di sekitar Ka’bah yang menawarkan jasa mencium Hajar Aswad adalah kekeliruan yang harus dijauhi.

Menyewa joki berarti si joki membukakan jalan bagi kita menuju Hajar Aswad dengan cara mencegah atau menyingkirkan jamaah lainnya, tentu hal ini dilarang karena menyakiti jamaah lainnya.Wallahu a’lam bish shawab.■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 28 Oktober  2011 / 1 Dzulhijjah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s