Hikmah Tauhid Ibadah Kurban


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, untuk memotivasi saya dan sekaligus memperbaiki niat saya untuk berkurban, mohon pencerahannya, apa sesungguhnya hikmah berkurban secara tauhid?

Salwa Hudaya — Jakarta Timur

Jawaban :

Berkurban, menurut mayoritas ulama, adalah sunah bagi yang mampu. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah mengatakan, “Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunah, yaitu shalat witir, menyembelih kurban, dan shalat Idul Adha.” ( HR Ahmad dan Hakim ). Mazhab Maliki menyebut status kurban adalah wajib.

Mazhab Syafii menyatakan hukum berkurban sunah muakadah, bahkan menjadi sunah ‘ain atau tanggungan bagi setiap individu sekali dalam seumur hidup dan sunah kifayah bagi sebuah keluarga besar. Maknanya, merupakan tanggungan seluruh anggota keluarga. Kesunahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya.

Pada masa Nabi Adam, syariat kurban ditujukan untuk menguji kesungguhan tauhid kedua putranya, yaitu Qabil dan Habil kepada Allah SWT. Beliau ingin mengetahui siapa di antara mereka paling baik ketaatannya. Pada masa Ibrahim, syariat kurban ditujukan untuk membuktikan kesetiaan tauhid Ibrahim dengan perintah menyembelih putranya, Ismail.

Ketika era Muhammad, syariat kurban ditegaskan berupa perintah menyembelih hewan ternak terbaik untuk membuktikan ketakwaan mereka kepada Allah. Ketiga bentuk sejarah kurban ini memiliki substansi yang sama, yaitu ujian atas ketauhidan individual dalam bentuk kesungguhan menjalankan ketaatan pada titah-titah Allah semata-mata karena mengharapkan rida-Nya.

Hal ini menunjukkan kesetiaan menapaktilasi jejak bapak monoteisme dunia, Ibrahim, yang diteladani oleh Rasulullah.

Pada implementasi syariat kurban, ada modal utama bertauhid sosial karena ibadah kurban bukan hanya mendidik jiwa ke arah takwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Kurban dapat mengikis sifat tamak serta mewujudkan sifat murah hati dengan membelanjakan harta di jalan Allah yang memberikan efek manfaat luas.

Pada akhirnya, kurban akan menumbuhkan kasih sayang sesama manusia, terutama antara golongan berada dan golongan yang kurang bernasib baik. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 29 Oktober  2011 / 2 Dzulhijjah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Kurban and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s