Doa Khusus Ibadah Haji


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Kita sebagai calon haji, menerima buku petunjuk doa pada saat ibadah haji. Misalnya doa saat mulai tawaf. Di Hijr Ismail ada doanya dan seterusnya. Dengan doa yang panjang sekali sehingga sulit dihafal dan kalau kita baca, kadang sampai lupa posisi dan mengganggu, menabrak atau ditabrak orang lain. Begitupun dalam sai. Bagaimana tuntunan doa menurut Rasulullah dalam menjalani haji?

Hamba Allah

Jawaban :


Berbeda dengan jenis ibadah lainnya, haji adalah ibadah yang membutuhkan berbagai kesiapan, seperti mental, fisik, materi, dan ilmu. Oleh karena itu, dibutuhkan banyak upaya untuk menjalaninya. Ibadah yang sudah berat ini jangan ditambah lagi dengan hal-hal yang memberatkan, apalagi jika tidak dicontohkan oleh Rasulullah.

Dalam pelaksanaan tawaf, Nabi Muhammad SAW tidak pernah menetapkan doa khusus untuk setiap putarannya. Kecuali, ketika kita berada di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. Di sana, beliau mengajarkan kepada kita agar membaca, Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar. ( HR Abu Daud)

Arti doa tersebut adalah, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat kelak dan hindarkanlah kami dari adzab api neraka.” Selanjutnya, untuk setiap putaran, seluruh jamaah haji dianjurkan untuk berdoa dengan doa apa saja yang mereka inginkan demi kebaikannya, terutama untuk kehidupan akhirat.

Atau bisa saja berzikir kepada Allah dengan bertasbih atau bertahlil, di mana setiap orang pasti mampu melakukannya. Lainnya, membaca ayat-ayat Al-Quran dan itu merupakan zikir yang paling utama. Karena semua doa dan zikir itu dilakukan sesuai dengan keinginan dan kemampuan jamaah haji, itu akan membuat mereka khusyuk dan tenggelam dalam dan pengharapan kepada Allah SWT.

Daripada mereka berdoa dengan membaca doa yang sangat panjang dari buku dan terkadang tidak dipahami maksudnya. Sekadar dilafalkan di mulut, baik dengan mengikuti orang lain atau membaca sendiri apa yang ada dalam buku itu. Hal itu menjadikan doa-doa mereka hampa tanpa makna karena tidak ada rasa takut dan pengharapan dalam doa tersebut.

Adapun doa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad ketika bersai adalah  ketika mendekati Bukit Shafa, yaitu dengan membaca, Inna shahafaa walmarwata min sya’aa’irillaah. Artinya: “Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.” ( QS Al-Baqarah [2] : 158 ). Juga mengucapkan, Abd’u bimaa bada’allaah. Artinya, “Saya memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”

Kemudian naik ke atas Shafa, menghadap ke kiblat ( Ka’bah ) lalu mengangkat kedua tangan dan bertakbir serta bertahmid, lalu mengucapkan, laailaaha illallaah wahdahuu laa syariiklah lahulmulku walhulhamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, laa ilaah illallaahu wahdah anjaza wa’dah wa nashara ‘abdah wa hazamal ahzaaba wahdah. Lalu berdoa dan mengulang zikir tersebut, berdoa lagi, berzikir yang ketiga kalinya. Semua hal itu juga dilakukan ketika sampai di Marwa. ( HR Muslim ).

Selain itu, dianjurkan untuk berdoa apa saja, bertasbih atau membaca Al-Quran. Wallahu a’lam bish shawab.■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 27 Oktober  2011 / 29 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s