Berkurban untuk Mayit


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya pernah mendengarkan kajian yang menyatakan bahwa tidak boleh berkurban atas nama mayit, kecuali almarhum pernah berwasiat. Lalu, bagaimana dengan seorang anak yang berkurban satu ekor sapi yang ditujukan untuk dirinya sendiri, istrinya, satu orang anak, almarhumah ibunya, almarhum bapaknya, dan almarhum mertuanya karena dia ingin menjadi anak saleh.

Karena, setahu dia, kalau berkurban satu ekor kambing tidak boleh dikhususkan untuk satu orang yang sudah almarhum, sedangkan kalau satu ekor sapi boleh karena untuk rame-rame, dan kalaupun kita berkurban seekor sapi untuk diri sendiri juga gak apa-apa. Bagaimana hukumnya dengan kasus tersebut, Ustadz?

Hamba Allah

Jawaban :

Syariat kurban sesungguhnya ditujukan untuk orang yang hidup saja, kecuali jika almarhum pernah bernazar, ada hukum khusus yang terkait dengan nazarnya. Ibadah kurban mengandung nilai sosial yang sangat  besar dampaknya. Secara garis besar, hukum berkurban bagi orang yang sudah meninggal itu ada tiga bentuk.

Pertama, orang yang meninggal itu bukan sebagai subjek utama ibadah kurban, hanya mengikuti kurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya, seseorang menyembelih seekor kurban untuk diri dan anggota keluarganya, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal. Dalam hal ini dibolehkan, karena Rasulullah berkurban untuk diri dan ahli baitnya, dan di antara mereka ada yang telah wafat.

Dalam hadis Aisyah disebutkan, “Sesungguhnya Rasul meminta seekor domba bertanduk, lalu dibawakan untuk disembelih sebagai kurban. Kemudian, beliau berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, bawakan aku sebilah pisau, tajamkanlah mata pisaunya dengan batu.” Aisyah pun mengerjakannya. Selanjutnya, Nabi mengambil pisau itu dan menghampiri seekor domba, lalu menidurkan dan menyembelihnya sambil membaca, “Bismillah, wahai Allah! Terimalah ( kurban ini ) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad,’ kemudian menyembelihnya.” ( HR Muslim ).

Kedua, menyembelih kurban untuk orang yang meninggal dan pernah bernazar untuk berkurban. Dalam hal ini para ahli waris almarhum wajib menunaikannya walaupun diri mereka belum pernah melakukan penyembelihan kurban untuk diri mereka sendiri.

Ketiga, menyembelih kurban bagi orang yang sudah meninggal bukan sebagai wasiat dan juga tidak diikutkan kepada yang hidup, tujuannya sebagai sedekah terpisah dari yang hidup.

Dalam hal ini dibolehkan, bukan sebagai kurban, tetapi sedekah semata. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 21 Oktober  2011 / 23 Dzulqaidah 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Kurban and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s