Fidyah dalam Ibadah Haji


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sering kali saya mendengar kalau ada yang rambutnya rontok, dia wajib bayar dam atau jika memotong kukunya, dia wajib bayar dam dan seterusnya. Sebenarnya, apakah dam dalam ibadah haji itu Ustadz dan apa hubungannya dengan fidyah?

Hamba Allah

Jawaban :

Dam sebagai bagian dari fidyah merupakan paket dalam ibadah haji. Oleh karena itu, dam dan fidyah tidak mesti berarti sanksi akibat adanya kekurangan atau pelanggaran dalam menunaikan ibadah haji. Ada di antaranya yang disyariatkan sebagai bentuk kesyukuran. Fidyah disyariatkan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji karena melakukan perkara yang dilarang dalam berihram.

Fidyah mesti dikeluarkan juga karena seseorang meninggalkan salah satu wajib haji dan umrah, melaksanakan haji tamattu’ atau qiran, dan ketinggalan ibadah haji atau terhalang melanjutkan ibadah haji. Sementara itu, fidyah karena melakukan larangan ihram terbagi ke dalam empat macam. Pertama, tidak wajib bayar fidyah, contohnya akad nikah.

Jika seseorang melakukan akad nikah ketika ihram, nikahnya batal dan orang yang melakukannya berdosa. Namun, ia tidak wajib membayar fidyah. Kedua, wajib membayar fidyah mughallazah ( berat ), contohnya melakukan hubungan suami istri ketika ihram. Pelakunya berdosa, hajinya rusak, dan harus melanjutkan pelaksanaan ibadah hajinya sampai selesai.

Dia juga mesti mengulangi lagi pada tahun mendatang serta wajib membayar fidyah, yaitu dengan menyembelih seekor unta. Ketiga, membayar fidyah al-mitslu ( dengan yang setara ), contohnya membunuh binatang. Jika membunuh hewan darat saat berihram, wajib melakukan salah satu dari tiga perkara, yaitu menyembelih binatang yang setara dengan binatang yang dibunuhnya.

Perkara lainnya, menilai harga binatang yang dibunuhnya, kemudian membeli makanan dengan harga itu dan memberikannya kepada fakir miskin atau menghitung berapa orang miskin yang dapat diberi makan dari harga binatang yang dibunuhnya. Lalu, berpuasa sesuai dengan jumlah orang miskin itu. Keempat, membayar fidyah penyakit.

Contohnya mencukur rambut, memotong kuku, menutupi kepala dengan sesuatu yang melengket ke kepala, memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, memakai wangi-wangian serta menutup muka dan memakai sarung tangan bagi wanita. Apabila seorang yang berihram melakukan salah satu perkara itu, harus melakukan salah satu dari tiga hal, yaitu menyembelih kambing dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin, memberi makan enam orang miskin, atau puasa tiga hari.

Fidyah karena meninggalkan salah satu wajib haji, seperti meninggalkan ihram dari miqat,  dia wajib menyembelih seekor kambing.

Bagi yang melaksanakan haji tamattu dan qiran dan bukan penduduk Makkah, dia pun wajib menyembelih binatang paling sedikitnya kambing, boleh juga unta dan sapi. Kalau tidak mampu, puasa tiga hari pada waktu haji dan tujuh hari ketika kembali ke negaranya. Wallahu a’lam bish shawab.■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 15 Oktober  2011 / 17 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s