Anak Angkat Dapat Harta Gono-Gini ?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saudara saya akan bercerai dengan istrinya setelah pernikahan yang berlangsung selama hampir 20 tahun dan belum dikaruniai anak. Keduanya sepakat mengadopsi anak sekitar 10 tahun yang lalu. Keinginan berpisah karena istrinya terlalu menguasai di rumah, sedangkan saudara saya seorang pendiam dan tidak mau macam-macam, yang penting keluarga tetap utuh.

Dia telah berkali-kali mengajak istrinya untuk shalat, namun jarang dilakukan. Dan, karena hampir 20 tahun tidak dikaruniai anak, maka dia memohon kepada istrinya agar diizinkan menikah lagi, tapi istrinya keberatan.Yang menjadi masalah, saudara saya ingin memberi anak angkatnya rumah yang sekarang ditempati istrinya itu. Apakah anak angkat berhak dapat gono-gini?

Hamba Allah

Jawaban :

Pada zaman jahiliah, anak angkat dinasabkan kepada ayah angkatnya berhak menerima warisan, boleh berkhalwat dengan anak perempuan serta istri ayah angkatnya, dan isteri anak angkat haram bagi ayah angkatnya. Secara umum, anak angkat layaknya anak kandung di dalam segala urusan. Bahkan, Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat Nabi Muhammad dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad.

Lalu, turunlah syariat Allah SWT yang mengharamkan pengangkatan anak ( adopsi ) yang dinasabkan kepada ayah angkatnya secara hakiki, bahkan anak-anak juga dilarang bernasab kepada selain bapak mereka yang asli. Allah juga menghapuskan sistem jahiliah terkait anak angkat, maka dibolehkan seseorang menikahi anak angkatnya, tidak ada saling mewarisi antara mereka. Dan, anak angkat dinyatakan bukanlah muhrim bagi istri dan anak dari ayah angkatnya. Hal itu dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Quran seperti Al-Ahzab  ayat 4 – 5 dan hadis.

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa antara anak angkat dengan keluarga angkatnya dan anak angkat itu harus diberitahukan siapa ayah dan ibu yang sebenarnya. Hal itu bukan berarti agama Islam melarang umatnya untuk berbuat baik dan menolong anak yatim dan terlantar yang membutuhkan pertolongan. Sama sekali tidak!

Harta gono-gini adalah hak berdua suami dan istri yang tidak ada kaitan langsung dengan anak angkat. Bila terjadi perceraian, hendaklah diselesaikan dan dibagi antara mereka berdua dengan cara perdamaian atau kesepakatan mereka berdua sesuai dengan kontribusi masing-masing pihak, baik secara materi ataupun nilai kerja yang langsung maupun tidak langsung.

Bahkan, ibu rumah tangga yang mengatur dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah harus dihitung juga karena dengan adanya ibu rumah tangga itu, suaminya dapat bekerja dengan tenang tanpa harus memikirkan lagi urusan rumahnya. Sedangkan pemberian kepada anak angkat bersifat hadiah atau hibah yang direlakan.

Dalam kasus di atas boleh saja keduanya menghibahkan rumahnya buat anak angkat mereka jika keduanya merelakan. Namun, pemberian kepada anak angkat juga harus mempertimbangkan perasaan dan hak-hak keluarga kandung, seperti ayah, ibu, dan saudara-saudaranya sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial akibat salah memprioritaskan pembagian harta. Wallahu a’lam bish shawab.■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 19 Oktober 2011 / 21 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Waris and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Anak Angkat Dapat Harta Gono-Gini ?

  1. Rahmat says:

    ea trus gimana jika anak angkat itu dari kecil sudah di asuh olh org tua angkt nY trus ibu angkt nY meninggal dn bpk angkt nY menikh knbali jadi ap anak angkt itu bisa dapat harta?

    —————————————-

    Sebenarnya sama dengan kasus di atas yang dijawab oleh Ustadz Bachtiar Nasir. Anak angkat itu tidak punya nasab ( garis keturunan ) kepada ayah dan ibu angkatnya, sehingga ia tidak berhak dapat waris dan hak-hak lain seperti anak kandung.

    Untuk lebih jelasnya, silakan baca lagi uraian Ustadz Bachtiar Nasir di atas.

  2. wulan says:

    Udztad, ibu saya ingin menghibahkan sebuah rumah terhadap saya. Akan tetapi ibu saya mempunyai seorang anak kandung laki laki, sedangkan saya hanyalah seorang anak tiri. Ada yg melatar belakangi mengapa ibu saya tidak mau memberikan hartanya kepada anak kandungnya tersebut, karena takut akan di jual semua oleh kakak tiri saya.
    Saya hanya di wajibkan menjaga rumah itu sebaik baiknya, bagaimana hukumnya pak udztad? ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s