Kain Ihram Terkena Najis


Oleh : Ustadz Bobby Herwibowo

Ustadz, ketika puncak haji kita harus melaksanakan semua rukun dan kewajiban haji. Bagaimana bila kain ihram yang kita pakai terkena najis? Sahkah hajinya?

Alfian, Semarang

Jawaban :

Puncak haji adalah pada tanggal 8-13 Dzulhijjah. Ketika itu, dimulai masa-masa Mabit, wukuf, hingga melontar jumrah, dan juga sai dan tawaf. Bisa dipastikan, padatnya dan jadwal waktu yang sangat singkat itu, sementara pakaian yang digunakan adalah kain ihram yang setiap saat selalu dipakai. Baik untuk shalat maupun ke tempat ibadah atau saat mau ke kamar mandi. Adakalanya, kita terlupa atau bahkan pakaian kita itu terkena najis.

Najis bila diketahui keberadaannya dan bisa terindra dapat mengganggu ibadah. Shalat tidak diterima bila tubuh kita terdapat najis. Apakah najis itu berupa kotoran, bangkai, darah, dan sebagainya. Semua hal yang najis adalah kotor dan dapat merusak ibadah, wa bil khusus shalat.

“Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor.” ( QS 6: 145 ).

Bila ada jamaah haji, misalnya pakaian ihram yang ia pakai terkena damun ( darah ), maka para ulama berpendapat bahwa darah yang sedikit ( seperti yang keluar dari bisul, jerawat, dan semacamnya ) dianggap tidak masalah. Sedangkan darah yang dianggap najis adalah darah yang mengalir dan banyak jumlahnya. Boleh jadi, ada jamaah haji wanita yang sedang menjalani ibadah haji, tiba-tiba ia haid sehingga mengotori pakaiannya.

Dalam kondisi ini, jamaah ( baik pria maupun wanita ) yang mengenakan pakaian ihram terdapat padanya najis, boleh melakukan dua hal. Pertama, mengganti pakaian ihramnya dan hal ini diperbolehkan. Kedua, mencuci dan membersihkan pakaian ihramnya sehingga bentuk najisnya hilang dari pakaian.

Sebagaimana disampaikan oleh Asma binti Abu Bakar RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang pakaian yang terkena darah haid. Maka, Rasulullah SAW bersabda, “Gosoklah najisnya lalu siramlah dengan air sampai bersih. Bila najisnya sudah hilang, maka engkau boleh shalat dengan mengenakan baju tersebut. “ ( Shahih Ibnu Hibban, 1397 ).

Demikianlah sedikit tuntunan yang boleh jadi dapat menimpa jamaah haji saat mengenakan pakaian ihram selama tiga hari di Armina dan terkena najis pada pakaian ihramnya. Najis boleh jadi mengganggu keabsahan shalat. Namun, mengenai najis mengganggu keabsahan haji, kami belum mendapatkan dalil yang menjelaskan akan hal itu. Wallahu a’lam.■

Sumber : Jurnal Haji 1432 H,  Republika, Sabtu, 15 Oktober 2011/17 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bobby Herwibowo, Haji and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s