Ramal saat Tawaf


Oleh : Ustadz Bobby Herwibowo

Ustadz, dalam salah satu prosesi ibadah haji, setiap jamaah diwajibkan untuk melakukan tawaf dengan khusyuk. Bolehkah saat melakukan tawaf itu sambil sedikit berlari? Mohon penjelasannya.

Hamba Allah, Depok

Jawaban :

Ibadah haji adalah ibadah yang membutuhkan ketangguhan fisik prima. Karena itu, Islam mewajibkan orang yang berhaji adalah mereka yang mampu, baik fisik maupun materi. Fisik yang digunakan saat berhaji adalah ketika tawaf, sai, melempar jumrah, dan mabit.

Dalam melakukan ibadah haji, khususnya ketika masuk ke dalam Masjidil Haram, maka ketika memulai tawaf di Baitullah disunahkan kepada mereka oleh Nabi SAW untuk melakukan ramal pada tiga putaran pertama. Ramal adalah berlari kecil yang sunah dilakukan pada tiga putaran pertama tawaf.

Disunahkannya ramaldalam tawaf ini bermula ketika Rasulullah SAW menginjakkan kaki di Masjidil Haram untuk memulai tawaf. Beliau SAW mendengar celotehan kaum musyrikin yang berkata bahwa Muhammad dan kaumnya terkena flu dari Madinah, dan pastilah mereka tak mampu untuk melakukan tawaf dan seluruh ritual haji.

Mendengarnya Rasulullah geram. Kemudian, Rasulullah SAW berinisiatif menunjukkan kekuatan fisik kaum Mukminin kepada para musuh Allah SWT tadi. Lalu, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan ramal pada tiga putaran pertama tawaf. Tidak hanya itu, bahkan Rasulullah SAW meminta seluruh sahabat yang saat itu berjumlah ribuan untuk menyentuh dua rukun ( Yamani dan Hajar Aswad ) pada seluruh putaran tawaf, meskipun hal itu tak mudah untuk dilakukan. ( HR Bukhari No 1602 dari Ibnu Abbas ).

Umar bin Khattab RA berkata, “Kami dulu melakukan ramal bersama Rasulullah SAW hanya demi menunjukkan kepada kaum musyrikin bahwa kami adalah kaum yang kuat. Dan kami tidak akan meninggalkan ramal dalam tawaf untuk selamanya.”

Tujuan ramal atau berlari kecil ini untuk menunjukkan kekuatan fisik seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Mukmin yang kuat adalah baik dan lebih disukai oleh Allah SWT daripada Mukmin yang lemah.”  Karena itu, Islam harus kuat, dan hal ini harus diwujudkan oleh individu-individu yang kuat. Ini dimaksudkan agar para musuh Allah gentar terhadap kekuatan fisik kaum beriman.

Itulah sekelumit kisah yang menyebabkan disunahkannya ramal dalam tawaf. Ia adalah simbol kekuatan, keperkasaan, dan harga diri umat. Haji adalah sebuah ibadah fisik yang menguras tenaga. Namun, ingat meski badan letih dan lelah, saat Anda beribadah kepada Allah dengan segenap hati, Allah akan memberikan kekuatan luar biasa bagi Anda yang menjalani ibadah tanpa berat hati. Wallahu a’lam.■

Sumber : Jurnal Haji 1432 H,  Republika, Kamis, 13 Oktober 2011/15 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bobby Herwibowo, Haji and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s