Bekal Utama Berhaji


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, setelah 23 tahun lebih saya menabung dan menunggu giliran untuk bisa pergi haji, insya Allah tahun ini saya akan berangkat haji. Saya berharap agar haji saya yang mungkin hanya sekali seumur hidup ini mendapatkan kemabruran dari Allah SWT dan tidak melakukan pelanggaran yang merusak kesempurnaan ibadah saya.

Pertanyaan saya, bekal apakah yang harus saya persiapkan sebagai tamu Allah agar bisa menjadi tamu yang diterima oleh Sang Pemilik Baitullah dan mendapatkan haji yang mabrur? Terima kasih.

Zaenab, Bekasi

Jawaban :

“Haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali Surga.” (HR Bukhari) .

Surga itu sangat istimewa dan mahal sekali, maka untuk mendapatkannya pun harus dengan cara dan proses yang tidak semudah melakukan perjalanan wisata keliling dunia sekalipun. Haji mabrur yang balasannya adalah surga membutuhkan perbekalan yang bukan bekal biasa. Pertama, adalah bekal takwa. Perjalanan haji adalah perjalanan menjumpai Allah di bait-Nya dan sebaik-baik bekal menjumpai Allah adalah bekal takwa (membuat dinding pemisah antara diri kita dan azab Allah).

Allah berfirman, “( Musim ) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” ( QS al-Baqarah [2] : 197 ).

Kedua adalah harta dan kendaraan yang halal. Bekal penting selanjutnya adalah harta yang halal, harta yang tidak bercampur dengan yang haram dan tidak pula mengandung syubhat ( samar antara halal dan haram ). Allah hanya mengabulkan ibadah yang dijalani dengan proses dan bekal yang halal, demikian pula dengan ibadah haji. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, jika seseorang naik haji dengan biaya dari hartanya yang halal, maka akan ada penyeru yang berseru dari langit, “Bekalmu halal dan kendaraanmu halal, maka hajimu pun mabrur.”

Namun, jika dia berangkat haji dari harta yang haram, maka penyeru tadi akan berseru, “La labbaika wala sa’daika. Bekalmu haram dan nafkahmu haram, maka hajimu tertolak, tidak mendapat ganjaran,”  atau dengan seruan yang semakna. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 29 September 2011/1 Dzulqaidah 1432

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s