Budaya Saksi Palsu


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, budaya korupsi adalah salah satu dari akibat budaya saksi palsu. Penyakit sosial ini seakan sudah menjadi biasa di kalangan masyarakat Indonesia yang konon mayoritasnya beragama Islam. Lihat saja sumpah jabatan dengan menggunakan kitab suci di atas kepala atau di tangan mereka saat dilantik, begitu juga sumpah-sumpah di persidangan, bahkan sumpah mereka di media massa, atau menandatangani nota yang nilainya berbeda dengan perolehannya. Atau, mengucapkan sesuatu yang berkonotasi sumpah, tapi tujuannya mengelabui orang lain. Dan, lain-lain bentuk dari saksi palsu. Bagaimana tuntunan Islam agar budaya saksi palsu ini ditinggalkan? Terima kasih.

Wahab, Depok

Jawaban :

Ada benarnya bahwa budaya korupsi hanya kelanjutan dari budaya bohong dan saksi palsu. Sungguh, saksi palsu adalah dosa besar yang mendatangkan laknat Allah bagi pelakunya karena orang yang bersaksi palsu hanya Allah saja yang dapat mengetahui dan menghukumnya.

Abdurrahman bin Abu Bakrah dari bapaknya dia berkata, “Saat kami di sisi Rasulullah SAW, beliau lalu bersabda: ‘Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar? Ada tiga perkara, yakni menyekutukan Allah, mendurhakai kedua ibu bapak, dan bersaksi palsu atau kata-kata palsu.’ Saat itu, Beliau sedang bersandar lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya sehingga kami berkata, ‘Semoga Beliau berhenti’.” ( HR Muslim ).

Dalam hadis ini, pelaku saksi palsu disamakan nilai kejahatannya dengan pelaku kemusyrikan dan pelaku durhaka kepada kedua orang tua. Rasulullah mengulang-ulang ucapannya sehingga hampir membuat para sahabat tidak kuat lagi untuk mendengarkan kelanjutannya, tentu karena betapa berbahayanya dosa dari penyakit saksi palsu ini. Fadlalah dari Aiman bin Khuraim ia berkata, “Rasulullah SAW berdiri menyampaikan khutbah seraya bersabda:  ‘Wahai sekalian manusia, saksi palsu itu sama dengan syirik kepada Allah.’  Beliau mengucapkannya tiga kali, kemudian Beliau membaca ayat: ‘Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta’ (QS Al-Hajj: 30).” ( HR Ahmad ).

Penyakit saksi palsu ini termasuk penyakit kronis yang sulit disembuhkan karena ia adalah kelanjutan dari penyakit dusta / bohong, sedangkan bohong saja sudah merupakan sumber semua dosa. Hanya kekuatan tekad dan kesungguhan pelakunya untuk berhenti serta hukuman berat saja yang dapat menghentikannya dari perbuatan saksi palsu itu dan Allah sendirilah yang bertindak terhadap pelaku saksi palsu ini. Semoga kita selamat dari penyakit hina itu. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 23 September  2011/24 Syawal 1432

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s