Hukuman Mati Buat Koruptor


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Pak Kiyai, menurut Syariat Islam, para koruptor itu hukumannya apa?  Terutama untuk oknum-oknum yang diduga terlibat dalam skandal besar yang merugikan negara seperti Kasus BLBI dan Bank Century?  Wassalam.

Iqbal Ramadhan, Jakarta Selatan

Jawaban:

Praktik korupsi di Indonesia, sebenarnya bukan saja terjadi pada dua-tiga dekade terakhir. Di era pemerintahan Soekarno, misalnya, Bung Hatta sudah mulai berteriak bahwa korupsi adalah budaya bangsa. Malah, pada tahun 1950-an, pemerintah sudah membentuk tim khusus untuk menangani masalah korupsi.

Tumbuh suburnya perilaku korupsi di Indonesia antara lain karena adanya ketidakadilan dalam proses hukum. Bagi para koruptor kelas kakap, sanksi hukum yang diterapkan justru sangat ringan. Mereka hanya divonis dengan hukuman penjara yang tidak berapa lama. Sebagai contoh, mantan pemilik Bank Century yang diduga melakukan penggelapan dana nasabah dalam kasus Skandal Bank Century yaitu Robert Tantular, divonis penjara 4 tahun dengan denda Rp 50 miliar. Padahal menurut data kepolisian, Robert Tantular membawa aset-aset Bank Century sebesar US$ 19,25 juta atau Rp 192,5 miliar ke luar negeri.

Sementara itu, hukuman bagi rakyat jelata sangatlah memberatkan. Seorang Nenek Minah (55), warga Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah yang kedapatan mengambil tiga biji kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan ( RSA ) akhirnya diganjar hukuman 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan. Sementara Kholil (51) dan Basar (40) warga Lingkungan Bujel, Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto menjadi pesakitan di pengadilan karena mencuri 1 buah semangka dan terancam hukuman lima tahun penjara.  Tentu ini sangat tidak adil.

Korupsi ( ikhtilas ) adalah suatu jenis perampasan terhadap harta kekayaan rakyat dan negara dengan cara memanfaatkan jabatan demi memperkaya diri atau orang lain. Korupsi merupakan salah satu dari berbagai jenis tindakan ghulul, yakni tindakan pejabat (pemerintah atau swasta) yang mendapatkan harta melalui kecurangan atau tidak syar’i, baik yang diambil harta negara maupun masyarakat.

Menurut syariat Islam, korupsi berbeda dengan pencurian. Dalam Sistem Sanksi Islam, mencuri termasuk kategori hudud yang hukumannya adalah potong tangan, sedangkan korupsi termasuk dalam kategori ta’zir yang hukumannya disesuaikan dengan jumlah harta yang dikorupsi, berupa penjara tahunan hingga hukuman mati. Rasulullah Saw bersabda: ”Perampas, koruptor ( mukhtalis ), dan pengkhianat tidak dikenakan hukuman potong tangan”. ( HR. Ahmad, Ashaabus Sunan dan Ibnu Hibban )

Ta’zir adalah pelanggaran atas hukum syara’ ( wajib dan haram ), tetapi belum ditetapkan kadar sanksinya secara syar’i maka diserahkan kepada penguasa ( qadhi/khalifah ) untuk menetapkan sanksinya. Sanksi ( ‘uqubat ) bagi pelaku ghulul ( termasuk korupsi ) adalah ta’zir ( bukan had ), karena harta yang dicuri merupakan harta yang syubhat ( harta negara/baitul mal ) dan merupakan harta milik umum.

Sanksi ini merupakan penebus dosa ( jawabir ) bagi pelakunya, di samping itu sanksi ini sebagai pencegah ( zawajir ) agar masyarakat tidak melakukan hal yang sama. Tetapi sebelum sanksi ta’zir dilakukan maka harta hasil korupsi itu harus dikembalikan terlebih dahulu kepada pemiliknya ( baik individu, organisasi, perusahaan maupun negara ). Jika barangnya telah rusak/cacat/berkurang maka harus dikembalikan dengan barang lain yang senilai harganya.

Bentuk ta’zir untuk koruptor bisa berupa hukuman tasyh’ir ( berupa pewartaan atas diri koruptor — dulu diarak keliling kota, sekarang bisa di-blow up lewat media massa ), jilid (cambuk), penjara, pengasingan, bahkan hukuman mati sekalipun.

Berkaitan dengan tasyh’ir, Zaid bin Khalid al-Juhaini meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah memerintahkan para sahabat untuk menshalati seorang rekan mereka yang gugur dalam pertempuran Hunain. Mereka, para sahabat, tentu saja heran, karena seharusnya seorang yang syahid tidak disembahyangi. Rasul kemudian menjelaskan, “Sahabatmu ini telah berbuat curang di jalan Allah.” Ketika Zaid membongkar perbekalan almarhum, ia menemukan ghanimah beberapa permata milik kaum Yahudi seharga hampir 2 dirham (lihat Kitab al- Muwwatha’, karya Imam Malik r.a).

Hukuman bagi koruptor bisa juga dengan hukuman kurungan. Menurut Abdurrahman al-Maliki dalam kitab Nidzamul ‘Uqubat fil Islam, hukuman untuk koruptor adalah kurungan penjara mulai 6 bulan sampai 5 tahun. Namun, masih dipertimbangkan banyaknya uang yang dikorup. Bila mencapai jumlah yang membahayakan ekonomi negara  dan merugikan negara ( seperti Kasus Skandal BLBI dan Bank Century ) , koruptor dapat dijatuhi hukuman mati.

Sedangkan jika para koruptor itu lolos di pengadilan dunia, maka pengadilan Allah SWT tidak akan bisa dibohongi, siksa yang pedih telah menunggu di akhirat nanti. Jika harta ghulul itu berupa makanan, maka daging yang berasal dari makanan hasil ghulul ini akan dibakar oleh api neraka. Jika harta ghulul ini berupa kendaraan, tanah, rumah, dan lain-lain, maka mereka harus membopong di pundaknya di akhirat nanti. Satu meter persegi saja tanah yang dicuranginya, maka coba bayangkan satu meter persegi potongan lempengan bumi yang harus dibopongnya di akhirat nanti. Wallahu a’lam bishawab ■

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 80, 18 Desember 2009 – 8 Januari 2010 / 1 – 21 Muharram 1431  H

 ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Fiqih, Syariah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s