Hadis Palsu


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Pak Ustadz, saya sering mendengar ungkapan: “Belajarlah walau sampai ke negeri Cina.” Apakah dalil ungkapan itu dan bagaimana sanadnya? Mohon penjelasan.

Anto, Kediri

Jawaban :

Ungkapan di atas memang sudah lama didengungkan sebagai hadis oleh kebanyakan umat Islam di seluruh dunia. Sayangnya hal ini adalah kekeliruan yang telanjur tersebar.

Menurut para ahli hadis, sanad hadis yang melalui Abi ‘Atikah Tharif bin Salman di atas adalah lemah seperti As-Sakhawi dalam Al-Maqashid al-Hasanah, al-Baihaqi dalam Syua’abul Iman. Ada yang menyebutkan palsu seperti Albani dalam Dha’if Al Jami. Ada pula yang menyebutkan dengan ungkapan batil seperti Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin, Albani dalam Silsilah Adh-Dha’ifah.

Walau menurut Al Mizzi, hadis di atas memiliki banyak jalur sehingga mungkin saja naik ke derajat hasan, namun pendapat Al Mizzi juga menurut ahli hadis sulit untuk bisa diterima mengingat kebanyakan periwayatannya dipenuhi oleh sanad yang bermasalah.

Dari segi matan, ada yang mempertanyakan apakah Nabi sudah mengetahui negeri Cina? Kemungkinan besar beliau telah mengetahuinya, karena sebagai Nabi dan Rasul pastinya beliau diberikan wahyu pengetahuan tentang geografi. Kedua, adalah status beliau sebagai pedagang yang sering melakukan perjalanan bisnis dan banyak berinteraksi dengan berbagai budaya di dunia. Budaya Cina juga bukan hal yang mustahil diketahui Rasulullah. Namun, penyebutan kata Cina pada masa itu tentu bukan berarti memiliki keutamaan.

Yang jelas, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seluruh Muslim, karena Islam adalah din yang mewajibkan umatnya untuk berilmu pengetahuan dalam dan luas. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 15 September  2011/16 Syawal 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Hadis and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s