Shalat Dhuha Berjamaah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, di sekolah saya sering dilakukan shalat sunah dhuha berjamaah dalam rangka belajar. Bagaimana hukumnya? Apakah diperbolehkan? Jazakallah.

Alifianty, Jakarta

Jawaban :

Menurut jumhur ulama, shalat dhuha hukumnya adalah sunah, tapi bagi Malikiyah dan Syafiiyah adalah sunah muakadah. Jumhur ulama berpendapat, paling sedikit shalat dhuha adalah dua rakaat dan maksimalnya delapan rakaat berdasarkan hadis Ummi Hani’ dan ada pendapat lemah  ( marjuh ) dari Abu Hanifah yang mengatakan bahwa maksimal shalat dhuha adalah 12 rakaat.

Dari Abu Dzar dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar makruf nahi munkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” ( HR Muslim ).

Abu Hurairah berkata: “Rasulullah telah menjanjikan kepadaku dalam tiga hal yang tidak aku tinggalkan selamanya. Aku tidak akan tidur sebelum melaksanakan shalat witir, dua rakaat dhuha, dan puasa tiga hari dalam setiap bulannya.” ( HR Ahmad ).

Di antara jenis shalat sunah ada yang dikerjakan secara berjamaah, misalnya, shalat hari raya      ( idain ), istisqa’, khusuf, dan kusuf. Dan, ada pula yang tidak disyariatkan dengan berjamaah, misalnya, shalat dhuha, qabliyah dan ba’diyah, tahiyyatul masjid, dan lain-lain. Pada awalnya, shalat dhuha adalah jenis shalat sunah yang tidak disyariatkan untuk berjamaah dalam melaksanakannya, namun diperbolehkan melakukannya secara berjamaah apabila dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja, misalnya, untuk kepentingan pendidikan dan tidak dijadikan semacam kebiasaan yang dirutinkan berjamaah.

Begitu pula dengan shalat tahajud ( qiyamul lail ) sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas. Namun, jika shalat dhuha sengaja dirutinkan dengan berjamaah, dapat menjadi bid’ah sebab bertentangan dengan syariat Muhammad SAW karena ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukannya sesekali secara berjamaah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-‘Atsqalany dalam kitabnya Fathul Bari, dinukil dari hadis Itban bin Malik riwayat Ahmad dan Muslim dengan sanad yang sahih menurut syarat Bukhari, bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat dhuha di rumahnya, kemudian orang-orang berdiri untuk shalat di belakang beliau dan mereka pun shalat sebagaimana shalatnya Nabi SAW ( shalat dhuha ). Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 9 September 2011/10 Syawal 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s