Merekayasa Tender, Dosakah?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sekitar tahun 2006, saya pernah diajak teman yang kebetulan seorang pejabat untuk membuat program di salah satu departemen pemerintahan. Setelah melalui proses negosiasi, akhirnya disetujui dengan catatan ada uang pelicin, angkanya miliaran. Akhirnya, departemen terkait membuat tender untuk ini dengan asumsi perusahaan kami yang menang. Namun, setelah dua kali tender, kami dinyatakan kalah.

Meski kecewa, kami menerima kekalahan itu ( mungkin belum rezeki ). Tetapi, setelah berjalannya waktu, saya mendapat sebagian hasil proyek ini dari teman yang menjadi pemenang tender tersebut, meski tidak sebesar jika kami yang menang.

Yang ingin saya tanyakan: Apakah saya berdosa karena turut serta merencanakan rekayasa tender? Apakah rezeki yang saya terima dari teman pemenang tender tersebut termasuk halal mengingat ada ketidakbenaran dalam proses tersebut?

Hamba Allah

Jawaban :

Selama Anda tidak bertobat dan berhenti berbuat demikian, maka Anda akan terus berdosa. Namun, jika Anda saat ini bertobat dan berhenti untuk tidak mengerjakannya lagi, semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan Anda. Ingat pesan Allah dalam ayat berikut, “Dan, tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allahlah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata ( Lauh mahfuz ). ( QS Hud [11] : 56 ).

Rekan Anda boleh jadi mengikuti proses tender dengan benar walau dia tidak tahu kalau proyek ini adalah rekayasa Anda, atau mungkin sudah sama-sama tahu, lalu Anda meminta jatah proyek tersebut. Pada kedua kasus tadi, tetap saja Anda berdosa karena Anda tahu bahwa ini adalah proyek yang sejak awal diniatkan salah, lalu dalam prosesnya Anda pun mengetahui perkembangan salah ini dan Anda ambil pula proyek tersebut.

Berhentilah membohongi diri dengan semua rekayasa yang Anda sadari. Ingat pesan Rasulullah, “Sesungguhnya setiap kalian tidak akan wafat sebelum disempurnakan rezekinya, maka janganlah kalian berlambat-lambat dalam mencari rezeki, dan bertakwalah kalian semua wahai manusia, serta perindahlah cara mencarinya, ambillah yang dihalalkan dan tinggalkanlah yang diharamkan. ( HR Muslim ).

Namun, ada pelajaran menarik untuk Anda perhatikan dari kasus Anda, yakni tentang kebenaran ayat Allah berikut, “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki …”  ( ar-Rad [13] : 26 ).

Anda gagal mendapatkannya walau telah Anda ulang dua kali rekayasa tender, dan hanya mendapatkan yang telah Allah tetapkan saja. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 14 September 2011/15 Syawal 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Muamalah and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s