Istri Nusyuz Berhak Asuh Anak?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Kerabat saya, suami istri berpendidikan tinggi, dikaruniai beberapa orang putra dan putri. Namun, sang istri nusyuz, sering bepergian beberapa hari ke luar kota bersama pria lain. Pada kesempatan lain, prianya ganti.

Peringatan suami diabaikan, bahkan berani berduaan dengan pria lain di hadapan suaminya sehingga membuat pikiran dan kesehatan suami terganggu.

Pengadilan Agama telah mengabulkan permohonan cerai suami, namun anak dan harta bersama belum ada putusan. Pertanyaan saya, apakah mantan istri yang dicerai karena nusyuz memiliki hak asuh anak?

Hamba Allah, Jakarta

Jawaban :

“…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, ..” ( QS An-Nisa [4] : 34 ).

Nusyuz dalam istilah syara’ adalah keluarnya wanita dari rumah tanpa seizin suaminya  (Hanafiyah). Sedangkan jumhur / mayoritas ulama mendefinisikan nusyuz sebagai keluarnya seorang istri dari ketaatan menunaikan kewajiban terhadap suaminya (Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah). Antonim nusyuz adalah shalihah. Wanita shalihah adalah qanitat ( yang taat pada Allah dan Rasul ), hafizhat lil ghaib ( menjaga kesucian dan kehormatan diri di belakang suaminya ). Wanita yang  nusyuz adalah yang tidak taat pada aturan Allah dan Rasul-Nya serta tidak menjaga kesucian dan kehormatan diri di belakang suaminya.

Dalam masalah hukum pengasuhan anak, pada awalnya ibulah yang paling berhak mengasuh anak karena kasih sayang, penjagaan, perhatian, serta keterikatannya lebih besar ketimbang ayah. Dari Abdullah bin Amr, dikisahkan ada seorang wanita yang mendatangi Rasulullah untuk mengadukan persoalannya, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, anakku ini, akulah yang dahulu mengandungnya. Aku pula yang menyusui dan memangkunya. Dan, sesungguhnya ayahnya telah menceraikan aku dan ingin mengambilnya dariku.” Mendengar pengaduan wanita itu, Rasulullah SAW lalu menjawab, “Engkau lebih berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah.” ( HR Ahmad, Abu Daud, dan Al-Hakim ).

Hadis tersebut menegaskan bahwa seorang ibu lebih berhak mengasuh anaknya ketika diceraikan oleh suaminya lalu suami hendak merebut hak asuhnya. Jika anak telah berusia tujuh tahun, ia diberikan hak memilih untuk ikut ayah atau ibunya. Dikisahkan, seorang wanita mendatangi Rasulullah. Ia mengadu, “Suamiku ingin membawa pergi anakku.” Maka Rasulullah SAW bertanya kepada anak itu, “Wahai Ananda. Ini adalah ayahmu, dan itu ibumu, pilihlah siapa yang engkau inginkan!” Anak itu kemudian menggandeng tangan ibunya, dan kemudian mereka berdua berlalu. ( HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah [ 2351] ).

Ada  empat hal yang menghalangi orang tua menjadi pengasuh bagi anaknya.

Pertama,orang tua yang berstatus hamba sahaya. Sebab, hak hadhonah ( mengasuh ) merupakan salah satu jenis wilayah ( tanggung jawab perwalian ). Sementara seorang budak tidak mempunyai hak wilayah ( tanggung jawab perwalian ). Di sisi lain, seorang budak akan dibatasi hanya untuk melayani tuannya.

Kedua, pelaku dosa besar ( al-fisq / al-fusuq ). Orang fasik yang gemar bermaksiat akan banyak memberikan pengaruh buruk dalam pengasuhan anak. Karena itu, ia terhalang untuk mendapatkan hak asuh anak.

Ketiga, orang tua kafir. Mereka tidak boleh diberi hak mengasuh anak yang beragama Islam. Sebab, kondisinya lebih buruk dari orang fasik.

Keempat, wanita yang telah menikah lagi dengan lelaki lain. Walau pada awalnya sang ibu lebih berhak, berdasarkan hadis di atas maka ia kehilangan hak asuhnya. Namun, bila sang ibu menikah dengan laki-laki yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan si anak, hak asuh ibu tidak hilang. Dalam kasus ini, wanita yang bercerai karena nusyuz dan berperilaku fasik, kehilangan hak asuhnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 10 September 2011/11 Syawal 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s