Merawat Hasil Takwa Ramadhan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ada bahagia dan sedih yang kami rasakan di bulan Syawal setelah meninggalkan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan, padahal masih banyak kelalaian yang kami lakukan selama Ramadhan. Hari-hari setelah Ramadhan akan kami jalani lagi dengan bekal penempaan diri selama bulan suci.

Pertanyaan saya, apa yang harus kami lakukan untuk merawat hasil ketakwaan kami selama Ramadhan kemarin agar keimanan dan ketakwaan kami tidak menurun atau hilang ditelan badai kelalaian selama bulan Syawal ini, Ustadz?

Ade Hermawan
Ciawi, Bogor

Jawaban :

Badai kelalaian bulan Syawal kemungkinan dapat mengurangi atau menghapuskan nilai-nilai Ramadhan yang telah kita pupuk sebulan penuh. Tawa riang dengan pakaian baru, makanan enak bersama orang-orang tercinta, hari libur dan berekreasi bercampur lelah bisa saja melalaikan shalat berjamaah, tilawah, dan lain-lain. Berikut beberapa tips merawat hasil takwa Ramadhan:

Tetaplah dirikan shalat berjamaah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka.” ( HR Abu Daud ).

Tilawah dan tadarus Al-Quran setiap hari walau hanya beberapa ayat karena Al-Quran lebih kita butuhkan dari apa pun. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun Al-Quran ibarat rumah yang runtuh.” ( HR Tirmizi ).

Saum Syawal. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa.” ( HR Muslim ).

Carilah kemuliaan dengan qiyamul lail karena ia adalah sebaik-baik shalat sunah. “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. ( QS Al-Isra [17] : 79 ).

Menambah ilmu agama ( thalabul ilm) karena peningkatan dan konsistensi takwa hanya dapat dijaga dengan ilmu yang memadai. Untuk itu, berupaya keraslah mendatangi majelis-majelis ilmu agama. “( Apakah kamu, hai orang musyrik yang lebih beruntung ) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’  Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” ( QS Az-Zumar [39] : 9 ).

Tetaplah menjaga silaturahim dengan mengunjungi karib kerabat dan sanak famili sekaligus memaafkan dan memohon dibukakan pintu maaf, bersedekahlah dengan memulai dari keluarga terdekat, dan jika perlu, dengan teratur, dan lain-lain. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 2 September 2011 / 3 Syawal 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s