Hukum Transaksi Derivatif


Oleh : M Amin Suma

Bila seorang importir mempunyai kewajiban membayar utang kepada eksportir, utang itu dalam mata uang dolar AS yang jatuh tempo tiga bulan mendatang. Untuk mengurangi risiko, importir tersebut melakukan hedging dengan membeli dolar AS forward tiga bulan ke depan. Apakah transaksi derivarif seperti ini dibolehkan dalam Islam?

Lexi , Sudirman, Jakarta

Jawaban :

Hedging dengan membeli dolar AS forward tiga bulan ke depan untuk mengurangi risiko, pada dasarnya dibolehkan sampai dengan jatuh tempo, sehingga tidak ada tambahan bunga.

Tetapi, pembayaran utang sesuai dengan kewajibannya saja. Apabila jatuh tempo tiga bulan dan importir belum mampu membayar, biasanya dikenakan setiap hari bunga tambahan yang harus dibayar oleh importir pada eksportir. Tambahan dalam bentuk bunga itulah yang diharamkan.

Hal ini sejalan dengan sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang meminta tambahan, sungguh ia telah melakukan riba. Yang memberi ataupun yang menerima adalah sama.” Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “Setiap utang yang mengambil kemanfaatan ( tambahan ) itu diharamkan.”

Sumber : Konsultasi  Zakat, Republika, Senin, 29 Agustus 2011/29 Ramadhan 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in M. Amin Suma, Muamalah, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.