Spekulasi Malam Ganjil


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya melihat masjid mendadak ramai dengan orang beriktikaf, namun hanya pada malam-malam ganjil. Mereka beralasan, hadis-hadis shahih meriwayatkan bahwa peristiwa agung malam lailatul qadar umumnya terjadi pada malam-malam ganjil.

Pertanyaan saya, bagaimana cara menyikapi hadis-hadis tersebut supaya saya tidak terjebak menjadi spekulan dalam beribadah dan beriktikaf ? Terima kasih.

Aqil, Cepu

Jawaban :

Fenomena itu memang sudah mendunia, bukan hanya di Indonesia. Bahkan, di Masjidil Haram pun demikian. Padahal, untuk mencapai kesiapan menerima lailatul qadar pada malam ganjil harus dimulai dengan mempersiapkan diri pada malam genap. Motivasi ingin mendapatkan lailatul qadar sesungguhnya untuk meningkatkan semangat mendekatkan diri pada Allah  ( taqarrub ), dalam bentuk mendisiplinkan diri berada di dalam rumah Allah ( masjid ).

Allah Yang Ganjil menyukai yang ganjil, dari Abu Hurairah secara periwayatan, dia berkata, “Allah memiliki 99 nama, 100 kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan masuk surga, dan Dia adalah ganjil dan menyukai yang ganjil.” ( HR Bukhari ).

Allah sengaja merahasiakan terjadinya malam yang agung itu di antara seluruh malam Ramadhan walau tidak harus terjadi pada malam ganjil, untuk menyaksikan siapa di antara hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh dan setia menanti kehadiran sang tamu agung, malam seribu bulan itu.

Allah juga mengisyaratkan bahwa kiamat akan terjadi pada hari Jumat, tapi Allah merahasiakan pada detik berapa pastinya kiamat itu untuk menyaksikan siapa di antara hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin bertobat.

Allah juga menyelipkan dosa besar di antara dosa-dosa kecil untuk disaksikan siapa di antara hamba-Nya yang sungguh-sungguh berjuang meninggalkan semua jenis dosa. Oleh karena itu, hidupkanlah semua malam Ramadhan dengan qiyam Ramadhan atau amalan lain yang mendekatkan diri kita pada Allah.

“Allah memiliki di bulan Ramadhan suatu malam yang lebih baik dibandingkan 1.000 bulan. Barang siapa yang dihalangi ( dari kebaikannya ), ia akan dihalangi (dari kebaikan).” ( HR An-Nasai’ ). Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat,26 Agustus 2011/26 Ramadhan 1432 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s