Mengapa Idul Fitri Berbeda?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya bingung dan kecewa dengan selalu berbedanya pemerintah dan tokoh-tokoh Islam dalam menentukan Lebaran. Bukankah telah berkumpul semua ahli dalam sidang itsbat? Seakan-akan Allah tidak menurunkan taufik-Nya dalam persidangan mereka sehingga apa yang mereka putuskan adalah kemenduaan dan berujung pada kegaduhan.

Ustadz, bagaimana cara saya memilih hari Lebaran agar hati saya tenang menjalaninya?

Rudi, Jember

Jawaban :

Dari  Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, “Satu bulan itu berjumlah dua puluh sembilan malam ( hari ), maka janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihatnya. Apabila kalian terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah jumlahnya menjadi tiga puluh.” ( HR Bukhari ).

Pendapat Anda bahwa seakan-akan pertemuan sidang itsbat tidak diberi taufik Allah mungkin ada benarnya. Indikatornya, setiap tahun mereka bersidang dan berupaya untuk bersatu sepertinya selalu tersandung oleh ‘angka dua’ berulang-ulang.

Menurut Ibnu Qayyim, ada dua sebab kesesatan orang dalam beragama. Pertama, syubhat, adalah ketika ilmu dan pikiran lebih didahulukan daripada syara’. Syubhat ini harus dilawan dengan keyakinan. Kedua, syahwat, adalah tunduknya akal sehat di hadapan hawa nafsu. Syahwat ini harus ditaklukkan dengan sabar. Kasihan umat yang dipimpin oleh orang yang dipenuhi pemikiran syubhat dan keputusan syahwat. Ego dan arogansi keilmuan telah menumpulkan rasa kasih sayang mereka pada umat yang sudah lelah ini.

Dalam mengambil keputusan Lebaran, kita sebagai umat harus juga menjauhi pikiran syubhat dengan tidak menjadikan pikiran kita sendiri sebagai dalil. Ikuti dalil syara’ yang lebih meyakinkan Anda dan hindari keputusan syahwat keberpihakan dan fanatisme golongan atau sekadar ikut-ikutan. Setelah itu, putuskanlah dengan memilih yang lebih tidak meragukan dari sisi agama.

Abu Al Haura As Sa’di berkata, “Aku bertanya kepada Al Hasan bin Ali, apa yang kau hafal dari Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Aku menghafal dari Rasulullah SAW: ‘Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan.” ( HR Tirmidzi ). Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 27 Agustus 2011/27 Ramadhan 1432 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ramadhan, Upacara Keagamaan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Mengapa Idul Fitri Berbeda?

  1. Makasih infonya pak ustad..

  2. Ta share ya pak ustad.

    ——————————————-

    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s