Panduan Iktikaf Bagi Muslimah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sebagai Muslimah yang ingin mematuhi dan menjalankan sunah-sunah Rasulullah, terutama di bulan suci Ramadhan ini mohon diberikan panduan iktikaf bagi Muslimah, mengingat adanya batasan-batasan yang selama ini mungkin belum kami ketahui. Terima kasih.

Maemunah – Jakarta Barat

Jawaban :

Ummul mukmin, istri-istri Nabi Muhammad  SAW  juga melakukan iktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. “Rasulullah biasa beriktikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai shalat Subuh, beliau masuk ke tempat khusus iktikaf beliau. Dia ( Yahya bin Sa’id ) berkata, ‘Kemudian Aisyah meminta izin untuk bisa beriktikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya’.” ( HR Bukhari ).

Iktikaf berarti menetap dan berkonsentrasi ( mulazamah ) pada sesuatu, secara syar’i berarti menetap dan berkonsentrasi di dalam masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT    ( taqarrub ) lewat cara-cara tertentu. Dalil umum yang digunakan adalah hadis dari Abu Hurairah, “Rasulullah beriktikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari, namun di tahun wafatnya beliau beriktikaf 20 hari.” ( HR Bukhari).

Waktu terbaik disunahkannya beriktikaf adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan dan dilakukan di dalam masjid yang biasa digunakan untuk shalat Jumat, bukan di mushala atau ruang-ruang khusus yang digunakan musiman saja untuk shalat, begitulah menurut pendapat yang lebih kuat. “… sedang kamu beriktikaf  di dalam mesjid.” ( QS al-Baqarah: 187 ).

Hukum iktikaf bagi Muslimah adalah sunah sebagaimana disunahkannya bagi kaum laki-laki. Bedanya, bagi Muslimah ada persyaratan tambahan. Pertama, mendapatkan izin dan restu suami jika memang sudah bersuami. Izin dari orang tua bagi yang belum menikah atau sedang sendiri. Kedua, yakin akan terhindar dari fitnah dalam melaksanakannya dan ketiga, tidak sedang dalam kondisi haid atau nifas.

Lama waktunya iktikaf minimal sekejap dan maksimal selama sebulan penuh, silakan berniat sesuai kemampuan.  Esensi beriktikaf adalah berkonsentrasi penuh guna mendekatkan diri kepada Allah sambil mengekang hawa nafsu dan menghindari pengaruh buruk lingkungan sosial.

Oleh karena itu, segala aktivitas ketenangan yang membuat diri berkonsentrasi kepada Allah dapat dijadikan sebagai aktivitas selama beriktikaf, seperti menjaga kesucian diri lahir dan batin  ( ikhlas dan tak putus dari wudhu ), mendirikan shalat wajib berjamaah tepat waktu, dan melaksanakan shalat-shalat sunah, tilawah, tadarus, tahfiz, dan tadabbur Al-Quran.

Selain itu, berdoa dan berzikir sebanyak-banyaknya, menambah ilmu agama seluas-luasnya, berdiskusi saling mengingatkan tentang Allah, boleh tidur dan menggunakan bantal, boleh menjumpai suami selama tidak berdua-duan yang menjurus pada gairah syahwat,  “( tetapi ) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah maka janganlah kamu mendekatinya.” ( QS Al-Baqarah : 187   ).

Dua hal yang membatalkan iktikaf adalah keluar berlama-lama untuk sesuatu yang tidak darurat dan berhubugan suami istri ( jimak ). Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 22 Agustus 2011/22 Ramadhan 1432 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ibadah, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s