Bermusik di Masjid


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, belakangan ini di beberapa tempat saya dapati masjid menjadi panggung musik bukan sekadar rebana, melainkan mulai dari ringtone ponsel yang tidak dimatikan saat shalat, konser musik di pekarangan masjid, musik pengantar berbuka puasa lewat pengeras suara masjid, dan bermusik di ruang ibadah masjid hingga mengalahkan orang yang sedang shalat sunah dan tadarus Al-Quran.

Saya pernah mempertanyakan hal ini kepada pengurus masjid, lalu dijawab bahwa ini adalah bagian dari syiar agama. Mohon penjelasan Ustadz tentang hal ini. Terima kasih.

Iskandar, Jakarta Selatan

Jawaban :

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, membayar zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang diberi petunjuk.” (at-Taubah: 18).

Masjid adalah memang rumah Allah dan tempat yang suci, tapi masjid hanyalah benda mati. Akar persoalannya adalah pengurus masjidnya. Merekalah yang paling bertanggung jawab di hadapan Allah kelak. Selain itu, para ulama dan jamaah serta masyarakat sekitar masjid juga harus ikut menjaga kesucian rumah Allah dari berbagai bentuk penistaan, termasuk bermusik di masjid dengan berbagai contoh yang Anda sebutkan di atas.

Memasuki masjid disunahkan bersuci lahir dan batin, tidak dalam keadaan haid, nifas, mabuk, dan junub. Selanjutnya, memulai dengan shalat tahiyatul masjid dan merendahkan bacaan Al-Quran agar tidak mengganggu kekhusyukan orang yang sedang shalat sunah. Jadi, bagaimana mungkin membiarkan musik di ruang ibadah, apalagi mengganggu orang yang shalat sunah dan bertadarus Al-Quran?

Pada masa akhir zaman ini, banyak fitnah pemikiran yang mengabaikan syara’ sehingga muncullah banyak syubhat, mendahulukan hawa nafsu ketimbang akal yang menyebabkan dominasi syahwat dalam amal perbuatan. Hanya keyakinan kuat yang dapat menangkal syubhat pemikiran dan hanya kesabaran yang dapat meruntuhkan dominasi syahwat.

Perhatikan hadis berikut: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Sungguh, sebagian dari umatku akan meminum khamr yang mereka namai dengan selain namanya, akan bernyanyi dengan para biduan disertai dengan alat musik. Allah akan menutupi kehidupan mereka dan akan menjadikan sebagian mereka kera dan babi.” ( Ibnu Majah ).

Hadis ini menggambarkan tentang syubhat pemikiran sehingga mengganti nama khamr dengan nama lainnya hanya untuk membenarkan syubhat pemikirannya. Juga para pengurus masjid yang mengatakan bermusik di masjid yang disucikan Allah adalah salah satu bentuk syiar agama Islam, sungguh-sungguh telah tenggelam dalam syahwat hawa nafsu dan dikendalikan oleh syubhat pemikirannya. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika,Selasa, 23 Agustus 2011/23 Ramadhan 1432 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Ibadah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s