Wasiat Orang Tua


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sebelum orang tua kami meninggal, beliau berpesan agar tanah peninggalan yang ada diperuntukkan bagi salah satu anak ( saudara kami ) yang belum mampu secara ekonomi dengan melihat kondisi saat itu. Belakangan diketahui, ada saudara kami yang tidak mengetahui kalau ada pesan seperti itu.

Pertanyaannya, bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini sesuai dengan tuntutan agama, apakah menggunakan wasiat almarhum orang tua, atau menggunakan aturan-aturan warisan yang ada, atau ada pendapat lain yang lebih baik? Terima kasih atas jawabannya.

Achmad Widodo, Jakarta

Jawaban :

Rasulullah SAW menetapkan bahwa harta peninggalan seseorang yang wafat itu harus diberikan kepada ahli waris berdasarkan ketetapan hukum waris. Sedangkan wasiat atau pesan-pesan almarhum/ah tentang bagaimana seharusnya pembagian harta peninggalannya kepada ahli waris dinyatakan tidak berlaku.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh berwasiat ( harta ) kepada ahli waris.” ( HR Ibnu Majah ). Boleh berwasiat jika diperuntukkan kepada selain ahli waris, dengan syarat tidak boleh melebihi 1/3 dari total harta yang dimiliki. Hal ini demi menghindari kezaliman.

Maka itu, semua yang termasuk dalam daftar ahli waris tidak bisa mendapatkan harta apa-apa dari almarhum, kecuali melalui mekanisme syariat kewarisan Islam. Dan itu merupakan ketetapan dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya: “Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” ( QS An-Nisa : 11 )

Bahkan, di ayat ke-13 dari surah yang sama, Allah berjanji kepada mereka yang menjalankan hukum hudud dengan pahala surga. “Itu adalah hudud ( ketentuan-ketentuan ) dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” ( QS An-Nisa : 13 )

Sebaliknya, di ayat ke-14, Allah mengancam orang-orang yang melanggar ketetapan-Nya itu dengan siksa neraka. “Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS An-Nisa : 14)

Untuk mereka yang sudah telanjur melanggar ketetapan itu, tidak ada jalan lain kecuali berhenti dari pelanggaran itu, memperbaiki diri, dan membatalkan keputusan salah yang telanjur dibuat. Artinya, bila pembagian harta yang salah itu telanjur dibuat, harus dibatalkan, diralat, serta dibagi ulang sesuai dengan aturan syariah yang benar. Wallahu A’lam.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 15 Agustus 2011/15 Ramadhan 1432 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s