Zakat dalam Bentuk Dinar


Oleh : M Amin Suma

Konsep kembali pada dinar dan dirham diserukan oleh banyak praktisi Islam. Selain nilainya lebih stabil, juga dapat menciptakan mekanisme pasar yang riil yang terjadi di masyarakat.

Bila khilafiah Islam belum tegak dan hanya beberapa individu yang membayar zakat dalam bentuk dinar, apakah boleh?

Dan bagaimana yang tidak membayar dalam mata uang tersebut, apakah sah zakatnya?

Maya, Blok M, Jakarta

Jawaban :

Yang terbaik dan ideal dalam penggunaan suatu mata uang seperti dinar dilakukan di bawah koordinasi pemerintah agar lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Akan tetapi, jika kondisi ideal ini belum tercapai, lakukanlah secara bertahap.

Bisa dimulai dari individu dan lembaga-lembaga yang memiliki kesadaran untuk menerapkannya dengan koordinasi dan kerja sama yang rapi dan teratur sehingga hal-hal yang merugikan bisa diatasi secara bersama-sama.

Karena itu, jika ada yang membayar dengan mata uang dinar, badan atau lembaga zakat harus menerimanya dan membayar dengan mata uang lain pun, yang berlaku resmi di suatu negara, harus pula diterimanya.

Sumber : Konsultasi  Zakat, Republika, Sabtu , 13 Agustus 2011/13 Ramadhan 1432 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in M. Amin Suma, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s